Bukan Jualan Murah: Begini Cara Honda Sindir Mobil Listrik Tiongkok Lewat Super One

3 hours ago 6

loading...

Alih-alih bersaing soal harga murah dan kapasitas bagasi dengan mobil pabrikan Tiongkok, Honda Jepang mengambil jalur berbeda lewat Super One. Foto: Sindonews/Danang Arradian

JAKARTA - Orang selalu mengeluh: mobil listrik itu membosankan. Tidak punya jiwa.

Bayangkan ini. Anda melaju kencang. Tapi kabinnya senyap. Tidak ada sentakan kasar saat Anda menurunkan gigi (downshift) sebelum masuk tikungan. Tidak ada raungan mesin saat pedal gas diinjak usai melewati apex.

Semuanya terasa datar. Dingin. Tanpa emosi. Kencang, tapi hampa.

Honda Jepang tahu betul penyakit ini. Mereka tidak mau latah. Tidak mau ikut-ikutan tren pabrikan Tiongkok seperti BYD, Geely, atau Aion. Yang berlomba-lomba membuat SUV listrik berbadan besar, kaya fitur, tapi rasanya generik.

 Begini Cara Honda Sindir Mobil Listrik Tiongkok Lewat Super One

Jepang punya cara sendiri mengadopsi elektrifikasi. Mereka masuk lewat compact EV. Mobil listrik ringkas. Ini adalah evolusi dari Kei Car yang lincah di jalanan sempit.

Nissan sudah menyiapkan Sakura. BYD pun bersiap merilis Rocco. Lalu Honda? Mereka meracik senjata rahasianya: Honda Super One.
SindoNews sudah mencicipinya langsung. Di Jepang. Akhir 2025 lalu.

Di sana, Super One sudah bisa dipesan secara pre-order sejak 16 April 2026. Kabar baiknya: Honda Prospect Motor (HPM) akan membawa mobil ini ke Indonesia.

Tapi ingat. Ini bukan mobil untuk mengejar volume penjualan (volume maker). Ini bukan lawan sepadan untuk menyaingi BYD Atto 1 atau Geely EX2.

Posisinya sangat jelas. Ini adalah "toy car". Mobil mainan. Mainan untuk orang dewasa yang mencari kegembiraan dalam mengemudi. Honda menyebutnya: "joy of driving".

Read Entire Article
Prestasi | | | |