loading...
Promosi Doktor dalam Bidang Ilmu Komunikasi Ressa Uli Patrissia di Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid. Foto/Istimewa.
JAKARTA - Pasar perangkat wearable di Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan. Produk-produk smartwatch baru yang sejalan dengan gaya hidup sehat pun terus bermunculan. Tetapi, banyak pihak yang belum menyadari bahwa jam tangan pintar berbasis kecerdasan buatan (AI smartwatch) yang melingkar di pergelangan tangan jutaan warga Indonesia ternyata tidak sekadar alat pemantau kesehatan.
“Ia telah menjadi sesuatu yang memiliki kekuatan yang memengaruhi penggunanya,” ujar Dr. Ressa Uli Patrissia, melalui siaran pers, Rabu (27/5/2026).
Baca juga: Raih Doktor Ekonomi di Universitas Trisakti, Sabar L Tobing Tawarkan Gagasan Pajak Digital
Menurut dosen dan peneliti yang baru saja dipromosikan sebagai Doktor Komunikasi dari Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid pada Rabu (25/5) itu, smartwatch menjadi semacam pribadi pendamping atau “co author” yang turut serta membentuk identitas penggunanya.
Dari disertasi program Doktoral Ilmu Komunikasi berjudul “AI-Powered Smartwatches as a Driving Force of Individuation Communication Transformation Across Indonesian Generations”, Ressa menyimpulkan bahwa pengguna AI smartwatch lintas generasi di Indonesia sedang mengalami pergeseran menuju pribadi yang dikendalikan algoritma.


















































