Efek Rupiah Babak Belur, Maskapai Teriak Minta Tolong

9 hours ago 12

loading...

Industri penerbangan nasional menghadapi tekanan berat akibat pelemahan nilai tukar rupiah dan lonjakan harga avtur. FOTO/dok.SindoNews

JAKARTA - Industri penerbangan nasional menghadapi tekanan berat akibat pelemahan nilai tukar rupiah dan lonjakan harga bahan bakar pesawat (avtur). Kondisi ini mendorong maskapai meminta pemerintah segera menyesuaikan kebijakan tarif dan biaya tambahan penerbangan.

"Masih belum meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah yang mempengaruhi industri penerbangan secara global dan nasional," ujar Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja dalam keterangan pers, Rabu (6/5/2026).

Baca Juga: Rupiah Jeblok Tembus Lebih Rp17.400 per Dolar AS, Bos BI Cuma Senyum

INACA mencatat harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta per 1 Mei 2026 mencapai Rp27.358 per liter, meningkat sekitar 16% dibandingkan April 2026 yang berada di level Rp23.551 per liter. Kenaikan ini dinilai berdampak langsung pada biaya operasional maskapai.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga melemah. Per 4 Mei 2026, kurs tercatat di level Rp17.425 per dolar AS, atau naik sekitar 2,5% dibandingkan posisi awal April 2025 sebesar Rp17.017 per dolar AS.

Seiring kondisi tersebut, INACA mendesak pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan untuk menyesuaikan kebijakan fuel surcharge secara lebih fleksibel. Skema yang saat ini mengacu pada periode 60 hari dinilai tidak lagi relevan dengan fluktuasi harga avtur yang cepat.

Read Entire Article
Prestasi | | | |