Habis Gelap Terbitlah Terang Digital, Semangat Kartini di Era Siber

3 days ago 11

loading...

Rimba Mahardika, Humas BSSN, Praktisi Ilmu Komunikasi Universitas Nasional. Foto/istimewa

Rimba Mahardika
Humas BSSN, Praktisi Ilmu Komunikasi Universitas Nasional

SETIAP tanggal 21 April, bangsa Indonesia selalu terjebak dalam romantisme seremonial. Kebaya, sanggul, dan lomba-lomba seru menjadi pemandangan biasa di perkantoran maupun sekolah. Namun, di tahun 2026 ini – tepat 147 tahun setelah kelahiran Raden Ajeng Kartini – kita harus jujur bertanya: Apakah peringatan ini masih sekadar "meminjam" nama Kartini, atau kita benar-benar melanjutkan perjuangannya?

Dalam diskursus ilmu komunikasi, Kartini bukan sekadar pahlawan emansipasi, melainkan seorang komunikator brilian yang mematahkan dinding patriarki melalui pena (surat-menyurat). Hari ini, 21 April 2026, ketika pena telah bertransformasi menjadi keyboard dan surat telah berubah menjadi algoritma media sosial, semangat Kartini dihadapkan pada realitas baru yang kompleks: "Terang Digital".

Komunikasi Feminis: Dari Ruang Pingitan ke Ruang Siber

Perjuangan Kartini yang tertuang dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang adalah manifestasi dari pemikiran kritis yang menembus batas-batas komunikasi tradisional saat itu. Jika kita membedah menggunakan Teori Komunikasi Feminis (Feminist Standpoint Theory), Kartini menyuarakan realitas kehidupan perempuan dari sudut pandang perempuan itu sendiri, bukan dari perspektif laki-laki yang dominan di zaman kolonial.

Di era digital 2026, perjuangan ini berevolusi. Media sosial dan platform digital menjadi ruang baru di mana narasi perempuan harus direbut. Namun, ironisnya, ruang "terang" ini juga membawa sisi gelap. Data dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) per April 2026 mencatat ada lebih dari 2.000 laporan kekerasan terhadap perempuan di ruang digital setiap tahunnya, dengan mayoritas kasus adalah kekerasan seksual online.

Read Entire Article
Prestasi | | | |