IHSG, Rupiah, dan Ujian Ketahanan Ekonomi Nasional

2 weeks ago 18

loading...

Kusfiardi, Analis Ekonomi Politik dan Co-Founder FINE Institute. Foto/Istimewa

Kusfiardi
Analis Ekonomi Politik dan Co-Founder FINE Institute

PERGERAKAN Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah sepanjang April hingga Mei 2026 kembali memunculkan kekhawatiran terhadap ketahanan ekonomi nasional. IHSG sempat terkoreksi cukup dalam, sementara Rupiah bergerak di kisaran Rp17.000 per dolar AS di tengah tekanan global dan meningkatnya ketidakpastian arus modal internasional.

Namun, pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah pasar sedang melemah. Pasar memang selalu bergerak dalam siklus naik dan turun.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: mengapa setiap kali tekanan global meningkat, ekonomi Indonesia kembali terlihat rentan?

Di titik ini, kita perlu berhenti melihat gejolak pasar hanya sebagai fenomena teknikal jangka pendek. Volatilitas IHSG dan Rupiah seharusnya dibaca sebagai refleksi dari struktur ekonomi nasional yang masih menghadapi persoalan mendasar: ketergantungan pada arus modal jangka pendek, lemahnya basis industri bernilai tambah tinggi, serta dangkalnya pasar keuangan domestik.

Tetapi membaca kerentanan struktural tidak berarti menegasikan seluruh capaian ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif terjaga dibanding banyak negara berkembang lain.

Konsumsi domestik tetap menjadi bantalan penting. Stabilitas perbankan juga masih berada dalam kondisi yang cukup terkendali. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, hilirisasi sumber daya alam mulai menciptakan fondasi baru bagi transformasi industri nasional.

Read Entire Article
Prestasi | | | |