loading...
Dosen Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta, Muhammad Irfanudin Kurniawan. Foto/UDN Jakarta.
Dosen Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta, Muhammad Irfanudin Kurniawan
Tadi siang, rapat mingguan guru Darunnajah terasa berbeda. Selain pesan nasehat dan evaluasi kegiatan pesantren pekanan.
Serasa seperti perkuliahan filsafat ilmu, mata kuliah yang kami ampu sudah hampir 5 tahu ini.
KH. Hadiyanto Arief, atau biasa kami sapa Ayah Dedy, sedang menjelaskan tentang tacit knowledge dan explicit knowledge.
Istilah ini memang populer di manajemen modern. Tapi beliau membawakan dengan cara pesantren. Sederhana. Mengena.
Beliau bilang, sumber ilmu itu tidak hanya empiris dan rasional.
Ada juga intuisi.
Dan intuisi itu dilatih. Bukan datang tiba-tiba. Ia dilatih lewat apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dilakukan oleh para santri setiap hari.
Empiris dan Rasional Saja Tidak Cukup
Selama ini, dunia pendidikan kita sering terlalu sibuk dengan dua hal. Pertama, fakta (empiris). Kedua, logika (rasional). Anak dijejali teori, diuji dengan rumus, dinilai dari angka.
Padahal, masih ada lapisan lain. Lapisan yang tidak bisa diukur dengan kertas dan pensil. Lapisan yang hanya bisa dirasakan. Itulah intuisi.
Di pesantren, intuisi ini dilatih lewat keteladanan. Santri melihat kiainya shalat malam, lalu hatinya tersentuh. Santri mendengar guru membaca Al-Qur’an dengan tartil, lalu ia ingin menirukan. Santri merasakan suasana asrama yang asik, lalu ia betah.
Semua itu tidak masuk dalam kurikulum tertulis. Dan tidak mudah dibuat modulnya. Tidak mudah juga ujiannya. Ujiannya buak esai apalagi pilihan ganda. Ujiannya berupan ketahan dan internalisasi nilai dan justru itu yang membentuk karakter.
Pengetahuan Eksplisit dan Tacit
Dalam ilmu manajemen, pengetahuan eksplisit itu yang tertulis. Buku, modul, jurnal, rumus. Mudah diajarkan, mudah diujikan.


















































