Ketika Kebaikan Menjadi Strategi: Akhir Dominasi Reward dan Punishment?

2 hours ago 6

loading...

Dosen Program Studi Kewirausahaan Universitas Darunnajah, Mastur. Foto/Universitas Darunnajah.

Dosen Program Studi Kewirausahaan Universitas Darunnajah, Mastur

Selama bertahun-tahun, banyak organisasi meyakini bahwa manusia akan bekerja lebih baik jika diberi penghargaan ketika berhasil dan dikenai sanksi ketika melakukan kesalahan. Keyakinan tersebut melahirkan berbagai sistem reward and punishment yang hingga kini masih menjadi fondasi dalam pengelolaan sumber daya manusia.

Logika ini tampak masuk akal. Penghargaan mendorong orang untuk mencapai target, sedangkan hukuman membantu menjaga disiplin dan kepatuhan. Karena itu, pendekatan ini banyak diterapkan di perusahaan, lembaga pendidikan, organisasi sosial, hingga instansi pemerintahan.

Namun, realitas dunia kerja saat ini berkembang jauh lebih kompleks dibandingkan beberapa dekade lalu. Organisasi tidak hanya membutuhkan individu yang patuh terhadap aturan, tetapi juga mereka yang mampu berinisiatif, berkolaborasi, beradaptasi, dan menghasilkan solusi atas berbagai perubahan yang terjadi.

Di tengah perubahan tersebut, muncul pertanyaan yang semakin relevan. Apakah manusia benar-benar hanya digerakkan oleh hadiah dan hukuman? Ataukah terdapat kebutuhan yang lebih mendasar yang membuat seseorang tetap bersemangat meskipun tidak sedang diawasi atau dijanjikan imbalan tertentu?

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa motivasi yang hanya bersumber dari faktor eksternal sering kali menghasilkan kepatuhan yang bersifat sementara. Ketika penghargaan berhenti diberikan atau ancaman hukuman tidak lagi dirasakan, dorongan untuk mempertahankan perilaku positif cenderung ikut melemah (McAnally & Hagger, 2024).

Sebaliknya, motivasi yang tumbuh dari dalam diri biasanya lebih stabil dan bertahan lebih lama. Perasaan dihargai, dipercaya, didengarkan, serta diperlakukan secara manusiawi terbukti berkontribusi terhadap keterlibatan kerja, kepuasan, dan komitmen seseorang terhadap organisasinya (McAnally & Hagger, 2024).

Perubahan cara pandang inilah yang kemudian mendorong munculnya perhatian terhadap konsep kindness strategy. Jika sebelumnya kebaikan lebih sering dipahami sebagai nilai moral pribadi, kini banyak kalangan manajemen mulai melihatnya sebagai pendekatan yang memiliki nilai strategis bagi organisasi.

Meskipun istilah kindness strategy belum berkembang sebagai teori manajemen yang mapan dengan satu tokoh pencetus tertentu, gagasan mengenai kebaikan sebagai pendekatan strategis mulai mendapat perhatian sejak tulisan Rayport (2012) di Harvard Business Review.

Perkembangannya kemudian diperkuat oleh berbagai kajian kepemimpinan yang menempatkan kebaikan sebagai faktor penting dalam membangun kepercayaan, keterlibatan, dan keberlanjutan organisasi (Caldwell, 2017; Haskins et al., 2018).

Read Entire Article
Prestasi | | | |