China Pembeli Terbesar Minyak Iran, Apakah Sanksi AS Ancam Hubungan Kedua Negara?

2 hours ago 11

loading...

Para tentara Tiongkok memegang bendera Amerika Serikat dan Tiongkok saat Presiden AS Donald Trump berkunjung ke Beijing pada 14 Mei. FOTO/Nikkei Asia

BEIJING - Amerika Serikat (AS) mengumumkan perluasan sanksi yang disebut akan memutus jalur ekonomi Iran namun menghindari langkah paling keras dengan lebih memilih memberi peringatan kepada dunia untuk menghentikan bisnis dengan negara tersebut. Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan negara lain harus memutus hubungan bisnis dengan Iran atau berisiko dikeluarkan dari sistem keuangan berbasis dolar AS.

"Kami ingin memperjelas hari ini bahwa tidak ada yang berada di luar jangkauan sanksi AS," ujar Bessent dikutip dari The Guardian, Rabu (26/8/2026).

Baca Juga: Disanksi AS Terkait Iran, China Tegas Siapkan Balasan

China telah menjadi pembeli terbesar minyak Iran selama beberapa tahun, namun blokade AS terhadap pelabuhan Iran yang diperbarui pada pertengahan Juli telah memotong sebagian besar aliran minyak Iran ke China.

Data pelacakan kapal Kpler menunjukkan impor minyak mentah Iran oleh China turun dari 1,57 juta barel per hari pada Februari menjadi 1,47 juta barel per hari pada Maret, kemudian anjlok drastis menjadi 785.000 barel per hari pada Juni, level terendah sejak Februari 2023.

Pengiriman sempat naik sedikit menjadi 823.000 barel per hari pada Juli, namun hingga Agustus turun lagi menjadi 534.000 barel per hari. Penyulingan independen China yang dikenal sebagai "teapot" menjadi pembeli utama minyak mentah Iran karena tertarik dengan diskon besar dibandingkan harga pasar.

Penyulingan besar milik negara China telah menghindari minyak Iran sejak 2019 ketika AS kembali menjatuhkan sanksi terhadap Teheran karena tidak ingin diputus dari sistem keuangan internasional berbasis dolar AS. Namun teapot yang melayani pasar domestik tidak memiliki kekhawatiran serupa.

Minyak Iran yang dikirim ke China telah lama dilabeli sebagai minyak Malaysia, dan lebih baru sebagai minyak Indonesia, dengan pembayaran dalam mata uang China melalui jaringan perantara yang sulit dilacak. Washington telah meningkatkan upaya untuk menekan pembelian minyak Iran oleh China sejak Presiden Donald Trump kembali ke Gedung Putih awal tahun lalu.

Read Entire Article
Prestasi | | | |