Defisit APBN Februari 2026 Sentuh Rp135,7 Triliun, Begini Penjelasan Purbaya

3 hours ago 5

loading...

Menkeu Purbaya melaporkan realisasi defisit APBN hingga 28 Februari 2026 tercatat sebesar Rp135,7 triliun atau setara dengan 0,53% terhadap PDB. Foto/Dok

JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan realisasi defisit APBN hingga 28 Februari 2026 tercatat sebesar Rp135,7 triliun atau setara dengan 0,53% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini dinilai masih sangat aman dan berada dalam koridor perencanaan fiskal 2026.

Purbaya menanggapi adanya perbandingan dengan kondisi tahun lalu yang sempat surplus. Ia menekankan, bahwa percepatan belanja di awal tahun adalah langkah sengaja agar dampak fiskal terhadap perekonomian bisa dirasakan masyarakat sejak dini, bukan hanya menumpuk di akhir tahun.

Strategi ini pun menjadi landasan optimisme pemerintah untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi yang cukup ambisius. Baca Juga: Baru Awal Tahun, APBN Tekor Rp135,7 Triliun hingga Akhir Februari

"Jadi ada yang bilang tahun lalu kan surplus, selama 4 tahun ini defisit. Ya emang desain APBN kita defisit dan sekarang kita paksakan belanjanya lebih merata sepanjang tahun sehingga dampak belanja pemerintah dan lain-lain terhadap perekonomian lebih terasa. Itu makanya Pak Febrio berani bilang 6 persen masih bisa. Masih bisa ya? Mudah-mudahan masih bisa," ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita, Rabu (11/3/2026).

Lonjakan defisit di awal tahun ini merupakan konsekuensi dari realisasi belanja negara yang tumbuh sangat tinggi, mencapai Rp493,8 triliun atau melonjak 41,9% secara tahunan (year on year/yoy). Anggaran tersebut difokuskan untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendanai program-program prioritas.

Read Entire Article
Prestasi | | | |