loading...
Seorang wanita sedang mengisi bahan bakar di pom bensin saat harga bahan bakar melonjak di Manhattan, Kota New York, AS, 7 Maret 2022. FOTO/Reuters
HOUSTON - Harga minyak mentah dunia menguat pada akhir perdagangan Jumat dan membukukan kenaikan signifikan sepanjang sepekan setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali terlibat dalam pertukaran serangan militer. Kenaikan harga minyak yang disertai lonjakan harga bahan bakar, terutama diesel, meningkatkan tekanan inflasi dan biaya pinjaman pemerintah di berbagai negara serta memunculkan kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi global.
“Semua sektor perekonomian terdampak oleh diesel. Ini menjadi salah satu alasan mengapa imbal hasil obligasi pemerintah AS begitu tinggi, karena ada ekspektasi bahwa inflasi akan terus meningkat,” kata Kepala Ekonom Rystad Energy Claudio Galimberti dikutip dari Reuters, Sabtu (5/9/2026).
Baca Juga: Tekan Ekonomi Iran, AS Klaim Telah Berkomplot dengan Uni Eropa
Pada perdagangan Jumat, harga minyak Brent berjangka ditutup naik 76 sen atau 0,8% menjadi USD92,68 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) berakhir naik 18 sen atau 0,20% menjadi USD91,48 per barel.
Lonjakan harga minyak tersebut terjadi setelah AS dan Iran kembali bertukar serangan pada bulan ketujuh konflik kedua negara. Pada saat yang sama, serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia turut meningkatkan gangguan pasokan, sementara harga rata-rata diesel di AS mencapai rekor USD5,85 per galon berdasarkan data American Automobile Association (AAA).


















































