Mudik, Ban, dan Nasib Petani Karet Indonesia

4 hours ago 3

loading...

Irfan Ahmad Fauzi, Ketua Asosiasi Petani Karet Indonesia. Foto: Istimewa

Irfan Ahmad Fauzi
Ketua Asosiasi Petani Karet Indonesia

MENJELANG Lebaran Idulfitri, jalan-jalan di Indonesia berubah menjadi sungai kendaraan. Mobil pribadi, bus antarkota, dan sepeda motor mengalir tanpa henti menuju kampung halaman. Di rest area jalan tol, antrean kendaraan memanjang.

Di jalur arteri, kemacetan menjadi pemandangan biasa. Jutaan orang bergerak serentak dalam sebuah tradisi yang dikenal sebagai mudik. Pada musim mudik 2024, survei Kementerian Perhubungan Republik Indonesia memperkirakan sekitar 193,6 juta orang melakukan perjalanan pulang kampung sekitar 71 persen dari total penduduk Indonesia.

Angka itu menjadikan mudik sebagai salah satu mobilitas tahunan terbesar di dunia. Namun di balik arus kendaraan yang masif itu, ada satu komoditas yang jarang masuk dalam perbincangan publik yaitu karet.

Padahal, setiap mobil, bus, dan sepeda motor yang melaju menuju kampung halaman bertumpu pada komponen yang sama, ban berbahan karet. Tanpa karet, tradisi mudik tidak akan pernah menjadi mobilitas raksasa seperti sekarang.

Ketika Mobilitas Bergantung pada Kebun

Industri global bergantung sekitar 70 persen konsumsi karet alam digunakan untuk industri ban kendaraan. Artinya mobilitas manusia modern dari kendaraan pribadi hingga transportasi logistic sangat bergantung pada komoditas ini.

Indonesia sebenarnya memiliki posisi strategis dalam rantai pasok karet dunia. Negara ini merupakan produsen karet alam terbesar kedua secara global setelah Thailand, dengan produksi sekitar 3,3–3,5 juta ton per tahun.

Sebagian besar produksi tersebut berasal dari perkebunan rakyat yang tersebar di Sumatera dan Kalimantan. Sekitar 85–90 persen kebun karet nasional dikelola oleh petani kecil. Artinya, jutaan keluarga menggantungkan hidupnya pada getah yang menetes dari pohon karet setiap hari.

Read Entire Article
Prestasi | | | |