Penembakan di Washington Hilton, Menakar Efektivitas Komunikasi Donald Trump

2 hours ago 4

loading...

Rimba Mahardika Humas BSSN dan Praktisi Ilmu Komunikasi Universitas Nasional. Foto/istimewa

Rimba Mahardika
Humas BSSN dan Praktisi Ilmu Komunikasi Universitas Nasional

MALAM Minggu, 25 April 2026, yang seharusnya menjadi panggung komedi dan santai dalam White House Correspondents' Dinner di Washington Hilton, berubah drastis menjadi adegan teater politik yang mencekam. Tembakan terdengar, evakuasi dramatis dilakukan, dan sekali lagi, Donald Trump - yang telah menjabat kembali sebagai Presiden AS ke-47 sejak 2025 - menjadi pusat perhatian dunia setelah insiden keamanan yang nyaris fatal.

Dari kacamata komunikasi politik, insiden ini bukan sekadar kriminalitas biasa. Ini adalah sebuah "peristiwa komunikasi" yang terstruktur, simbolik, dan sarat muatan propaganda. Tempat kejadian, Washington Hilton, bahkan memiliki memori sejarah yang kuat sebagai tempat pembunuhan Ronald Reagan tahun 1981, memberikan deja vu politik yang mendalam.

Simbolisme "Lone Wolf" dan Narasi Korban

Dalam hitungan jam setelah kejadian, mesin komunikasi Gedung Putih bergerak cepat. Narasi langsung dibangun bahwa serangan itu dilakukan oleh "lone wolf" (pelaku tunggal) bernama Cole Thomas Allen, seorang penembak yang berhasil ditahan. Komunikasi ini krusial untuk menstabilkan pasar dan opini publik. Dengan menyebut pelaku sebagai aktor tunggal dan "whack job" (orang gila), Trump menghindari komunikasi yang menyudutkan kelompok politik tertentu secara prematur, sekaligus memperkuat citra diri sebagai pemimpin yang kokoh menantang bahaya.

Read Entire Article
Prestasi | | | |