loading...
Asap di atas terminal minyak Aramco di Jizan, Arab Saudi, 26 Juli 2026. Foto/Gallo Images/Orbital Horizon/Copernicus Sentinel Data
RIYADH - Produksi minyak mentah Arab Saudi anjlok hampir 2 juta barel per hari pada bulan Agustus ke tingkat terendah dalam lebih dari 35 tahun. Kondisi ini akibat konflik di Timur Tengah yang menghambat jalur ekspor kerajaan tersebut. Data itu dilaporkan Bloomberg pada hari Kamis (10/9/2026).
Riyadh melaporkan kepada OPEC bahwa produksi turun sebesar 1,9 juta barel per hari bulan lalu menjadi 6,238 juta barel per hari (bph), menurut laporan bulanan kelompok tersebut yang diperoleh media itu.
Angka ini mencatat rekor terendah baru sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari, sekaligus menjadi tingkat produksi terendah kerajaan tersebut sejak dimulainya Perang Teluk pada tahun 1990.
Arab Saudi terjepit di antara gangguan pada kedua jalur ekspor maritim utamanya. Lalu lintas melalui Selat Hormuz sangat terbatas di tengah konflik AS-Iran yang sedang berlangsung, sehingga memaksa ketergantungan yang lebih besar pada jalur Laut Merah.
Pasukan Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman juga kembali melancarkan perang melawan pasukan pemerintah yang didukung Saudi dan menyatakan blokade maritim terhadap kerajaan tersebut.
Kelompok Houthi juga secara langsung menargetkan infrastruktur energi Saudi. Serangan gencar menggunakan rudal dan pesawat nirawak (drone) pada hari Selasa menyebabkan kebakaran pada instalasi minyak dan memaksa penghentian operasi di beberapa fasilitas, menurut otoritas Saudi.
Namun Riyadh hanya memberikan sedikit rincian mengenai tingkat kerusakan atau dampaknya terhadap produksi.
Kelompok Houthi dilaporkan merebut kota pelabuhan strategis Mocha pada hari Kamis, memperketat kendali mereka atas akses menuju Selat Bab al-Mandeb—pintu masuk selatan yang sempit menuju Laut Merah dan jalur krusial bagi ekspor minyak Saudi.

















































