Redam Risiko Lonjakan Harga Minyak Dunia, INDEF: Kendaraan Listrik Jadi Strategi Krusial

5 hours ago 8

loading...

Kepala Center of Food, Energy and Sustainable Development INDEF, Abra Talattov menilai percepatan adopsi kendaraan listrik jadi strategi krusial meredam lonjakan harga minyak dunia. Foto/Ilustrasi/Dok.SindoNews

JAKARTA - Kepala Center of Food, Energy and Sustainable Development INDEF, Abra Talattov menilai percepatan adopsi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) menjadi strategi krusial untuk meredam risiko lonjakan harga minyak mentah dunia terhadap ekonomi domestik. Hal ini merespons eskalasi ketegangan di Timur Tengah pasca-serangan pada akhir Februari 2026.

Kondisi tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah jenis Brent hingga 58%, menyentuh level USD116 per barel pada 9 Maret 2026. Realisasi ini jauh melampaui asumsi ICP dalam APBN 2026 yang dipatok sebesar USD70 per barel.

Baca juga: Perang AS-Iran Bikin Minyak Dunia Mendidih, Kadin Peringatkan Semua Mesti Waspada

“Lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik membuktikan bahwa ketergantungan yang tinggi terhadap BBM berbasis impor merupakan risiko utama bagi stabilitas fiskal dan ketahanan energi nasional,” ujar Abra, Jumat (13/3/2026).

Bahkan Abra menjelaskan, kenaikan harga minyak tersebut berpotensi menekan postur APBN secara signifikan. Berdasarkan kalkulasi INDEF, setiap kenaikan ICP sebesar US$1 per barel dapat meningkatkan defisit fiskal hingga sekitar Rp6,8 triliun.

Read Entire Article
Prestasi | | | |