loading...
Risiko Berkendara Jarak Jauh dengan Mobil Listrik. Foto /Daily
LONDON - Mengemudi jarak jauh dengan mobil listrik bukan sekadar masuk dan mengemudi sampai baterai hampir habis.
Tidak seperti mobil bensin, pengemudi harus merencanakan terlebih dahulu titik pengisian daya, stasiun pengisian daya yang kompatibel, jarak tempuh sebenarnya, dan faktor-faktor seperti cuaca, medan, dan kecepatan.
Tantangan terbesar dalam perjalanan jauh dengan kendaraan listrik seringkali terletak pada pengisian daya.
Stasiun pengisian daya tidak tersedia semudah SPBU di setiap pintu keluar jalan raya, dan tidak semua stasiun pengisian daya cocok untuk perjalanan yang membutuhkan kepatuhan terhadap jadwal.
Untuk perjalanan jauh, pengisian cepat DC hampir selalu menjadi pilihan yang paling praktis, kecuali jika kendaraan diisi daya semalaman di hotel atau saat berhenti lama.
Pengemudi juga tidak boleh berasumsi bahwa kendaraan mereka dapat menempuh jarak persis seperti yang diiklankan oleh Badan Perlindungan LingkunganAS(EPA). Jika kendaraan listrik diberi peringkat 300 mil per pengisian daya oleh EPA, itu tidak berarti kendaraan tersebut akan dengan mudah mencapai jarak tersebut sebelum perlu diisi ulang.
Pengujian Consumer Reports menunjukkan bahwa dalam banyak kasus, angka laboratorium EPA 10 hingga 20% lebih tinggi daripada kenyataan, bahkan dalam kondisi pengoperasian yang relatif menguntungkan.
Salah satu alasan pentingnya adalah pengujian EPA membatasi kecepatan hingga 60 mil per jam, sementara kecepatan di banyak jalan raya biasanya antara 65 dan 70 mil per jam, dan di beberapa tempat bahkan hingga 80 mil per jam. Semakin tinggi kecepatan, semakin cepat baterai terkuras.

















































