loading...
Rusia bangun monumen kemenangan, Jepang marah. Foto/Sputnik
MOSKOW - Tokyo menuntut agar Rusia membongkar monumen yang baru diresmikan untuk memperingati kemenangan Uni Soviet tahun 1945 atas Kekaisaran Jepang dan berakhirnya Perang Dunia II, dengan alasan bahwa monumen itu melukai "perasaan rakyat Jepang." Namun, Moskow menolak tuntutan tersebut, menyamakannya dengan tindakan menyuruh "Matahari untuk tidak bersinar."
Monumen tersebut diresmikan di kota Khabarovsk, Rusia timur jauh, pada hari Jumat. Bagian utama dari tugu peringatan ini adalah patung tentara Soviet setinggi 15 meter yang sedang menghancurkan batu perbatasan—yang diukir dengan lambang bunga krisan Kekaisaran Jepang—menggunakan popor senapannya.
Monumen ini dibuat atas inisiatif Presiden Rusia Vladimir Putin, dengan desain yang mengungguli tujuh proyek lainnya dalam sebuah kompetisi.
Batu tersebut merupakan "replika persis dari batu perbatasan yang didirikan Jepang di Sakhalin, setelah mereka merebut separuh wilayah itu usai Perang Rusia-Jepang" pada awal abad ke-20, ujar Nikolay Ovsiyenko, wakil kepala kantor kepresidenan untuk urusan kemanusiaan.
"Ini bukan sekadar simbol keluarga kekaisaran, sebagaimana yang diklaim oleh tetangga kita; ini juga merupakan simbol Jepang yang militeristik, yang melakukan kejahatan keji selama Perang Dunia II," tambah Ovsiyenko saat upacara peresmian.


















































