loading...
Salah kalkulasi balas dendam Iran, biaya perang AS terus membengkak. Foto/X
TEHERAN - Presiden AS Donald Trump melakukan kesalahan perhitungan mengenai respons Iran terhadap agresi yang sedang berlangsung oleh koalisi AS-Israel. Sementara Selat Hormuz tetap hampir tidak dapat dilalui dengan harga minyak yang melonjak.
The New York Times melaporkan pada hari Rabu bahwa Trump sangat meremehkan respons Iran terhadap perang agresi tanpa provokasi yang dilancarkan oleh koalisi militer AS-Israel pada 28 Februari dan dampaknya di pasar.
Menurut artikel tersebut, yang mengutip beberapa sumber anonim, pemerintahan Trump keliru percaya bahwa harga minyak akan naik sebentar selama beberapa hari lalu turun, seperti yang terjadi selama perang 12 hari pada Juni tahun lalu.
Namun, Gedung Putih terbukti salah kali ini karena tidak menganggap serius ancaman Teheran untuk menutup Selat Hormuz yang strategis di Teluk Persia.
Menurut Times, pengiriman komersial telah terhenti di Teluk Persia, harga minyak melonjak, dan pemerintahan Trump berupaya keras mencari cara untuk meredam krisis ekonomi yang telah memicu kenaikan harga bensin bagi warga Amerika.
“Episode ini merupakan contoh betapa salahnya penilaian Trump dan para penasihatnya tentang bagaimana Iran akan menanggapi konflik yang dianggap pemerintah di Teheran sebagai ancaman eksistensial,” kata demikian ungkap Times.
“Iran telah merespons jauh lebih agresif daripada yang dilakukannya selama perang 12 hari Juni lalu, menembakkan rentetan rudal dan drone ke pangkalan militer AS” di negara-negara Arab Teluk Persia, serta wilayah pendudukan Israel, tambahnya.
Setelah pengarahan tertutup kepada para anggota parlemen oleh pejabat pemerintahan Trump pada hari Selasa, Senator Christopher Murphy mengatakan di media sosial bahwa pemerintah tidak memiliki rencana untuk Selat Hormuz dan “tidak tahu bagaimana cara membukanya kembali dengan aman.”

















































