loading...
NEW YORK - AI menggantikan peran manusia dalam pengambilan banyak keputusan di lapangan. Tetapi ketika Hawk-Eye, VAR, atau sistem offside otomatis melakukan kesalahan, siapa yang bertanggung jawab?
Sebuah "Out" diumumkan di Wimbledon 2025. Pemain tenis Anastasia Pavlyuchenkova segera berhenti bermain, karena yakin bola tersebut keluar.
Namun hanya beberapa detik kemudian, wasit mengumumkan bahwa sistem penentuan bola otomatis mengalami kerusakan dan memberikan sinyal pada waktu yang salah. Poin tersebut harus diulang karena tidak ada mekanisme untuk meninjau situasi tersebut.
Ini bukan sekadar kesalahan teknis. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, turnamen Grand Slam menyaksikan AI menjadi fokus kontroversi. Pertanyaan pun segera muncul: jika pengambil keputusan akhir adalah algoritma, siapa yang akan bertanggung jawab ketika algoritma tersebut salah?
Dalam waktu kurang dari satu dekade, AI telah menjadi bagian dari sistem perwasitan di banyak cabang olahraga besar.
Dalam sepak bola, VAR menggunakan jaringan kamera yang dikombinasikan dengan teknologi penglihatan komputer untuk menganalisis situasi offside, pelanggaran, atau handball. Di Piala Dunia , FIFA juga menerapkan sistem offside semi-otomatis (SAOT), yang menggabungkan sensor yang ditempatkan di dalam bola dengan puluhan kamera AI untuk melacak pergerakan pemain secara real-time.
.
Dalam tenis, Hawk-Eye hampir sepenuhnya menggantikan hakim garis di banyak turnamen besar. Sistem ini menggunakan beberapa kamera berkecepatan tinggi untuk membuat model tiga dimensi dari lintasan bola dan menentukan apakah bola berada di dalam atau di luar batas lapangan dengan akurasi hanya beberapa milimeter.


















































