loading...
Peta tempat tinggal kaum Ultra High Net Worth Individual (UHNWI) atau para miliarder dunia sedang mengalami pergeseran ekstrem. Foto/Dok
JAKARTA - Peta tempat tinggal kaum Ultra High Net Worth Individual (UHNWI) atau para miliarder dunia sedang mengalami pergeseran ekstrem. Aturan pajak baru yang mencekik di negara-negara barat memicu eksodus massal para bos teknologi dan konglomerat global.
Mereka berbondong-bondong mengosongkan rumah lama mereka demi memburu suaka pajak baru yang lebih ramah kantong. Berdasarkan Wealth Report terbaru yang dirilis oleh lembaga konsultan properti global Knight Frank, negara-negara seperti Inggris, China, India, Korea Selatan, Rusia, dan Brasil tercatat sebagai wilayah yang paling cepat kehilangan penduduk super-kayanya.
Aturan Pajak Mencekik Jadi Biang Kerok Utama
Mengapa fenomena ini terjadi? Jawabannya adalah perubahan regulasi keuangan yang radikal di dua pusat ekonomi dunia. Di Amerika Serikat, rencana penerapan pajak miliarder (billionaires tax) di California membuat para pendiri raksasa teknologi gerah.
Nama-nama besar seperti Mark Zuckerberg, Larry Page, Peter Thiel, Ken Griffin, hingga Sergey Brin memilih angkat kaki dari California. Mereka kompak memindahkan basis mereka ke Miami, Florida, dengan memborong perkebunan dan rumah mewah senilai USD18 juta hingga USD170 juta.
Baca Juga: Kedok Perusahaan Cangkang Miliarder Prancis Berharta Rp2.724 Triliun Terbongkar, Alat Sunat Pajak?
Selain itu di Inggris, pemerintah London resmi menghapus status pajak non-domiciled (yang sebelumnya membebaskan warga asing dari pajak atas pendapatan di luar Inggris). Langkah ini langsung mengusir para miliarder penghuni London, termasuk magnet pelayaran John Fredriksen, investor Christian Angermayer, hingga pemilik klub sepak bola Aston Villa, Nassef Sawiris.
Selera Investasi Berubah: Tinggalkan Wiski Langka, Buru Lukisan
Laporan Knight Frank juga mendeteksi perubahan mencolok pada cara kaum jetset membelanjakan sisa uang tunai mereka. Setelah dua tahun mengalami penurunan, pasar barang koleksi mewah (luxury collectibles) akhirnya kembali stabil karena pergeseran tren yang drastis.


















































