loading...
Perbedaan angka kemiskinan Indonesia yang dirilis BPS dan Bank Dunia menghasilkan angka terpaut jauh. Seorang wanita mengendarai becak untuk mengangkut anak-anaknya. FOTO/Getty Image
JAKARTA - Perbedaan angka kemiskinan Indonesia yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Dunia (World Bank) menghasilkan angka terpaut cukup jauh, meski keduanya menggunakan data dan pendekatan yang berbeda. Kedua lembaga menegaskan perbedaan tersebut tidak menunjukkan kondisi kehidupan masyarakat yang memburuk melainkan mencerminkan perbedaan tujuan dan metode pengukuran kemiskinan.
"Kedua ukuran tersebut memiliki tujuan yang berbeda, dan keduanya tepat untuk kegunaan masing-masing. Garis kemiskinan nasional ditetapkan oleh pemerintah serta bersifat spesifik bagi setiap negara dengan konteksnya masing-masing. Garis ini digunakan sebagai dasar kebijakan nasional dan untuk memantau kemajuan dalam upaya pengentasan kemiskinan," tulis BPS dan Bank Dunia dalam pernyataan bersama dikutip pada Jumat (11/9/2026).
Baca Juga: 64,2% Penduduk Indonesia Masih Miskin versi Bank Dunia, BPS Sebut Perbedaan Standar
BPS mencatat tingkat kemiskinan nasional pada Maret 2026 sebesar 8,07%, membaik dibandingkan 8,47% pada Maret 2025. Pengukuran tersebut menggunakan garis kemiskinan berdasarkan biaya hidup di Indonesia dengan menghitung kebutuhan minimum pangan dan nonpangan di 75 wilayah perdesaan dan perkotaan.
Pada Maret 2026, garis kemiskinan BPS tercatat Rp669.235 per orang per bulan atau sekitar USD3,60 per hari. Ukuran tersebut dinilai paling relevan untuk memantau perkembangan kemiskinan dan menjadi dasar perumusan kebijakan ekonomi serta pembangunan nasional karena disusun berdasarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat Indonesia.


















































