loading...
Kusfiardi, Analis Ekonomi Politik. Foto: Dok SindoNews
Kusfiardi
Analis Ekonomi Politik
EKONOMI Indonesia pada 2025 tumbuh 5,39 persen. Dari angka itu, muncul klaim bahwa Indonesia adalah “juara satu” di antara negara-negara G20. Klaim ini kemudian dipakai untuk membangun citra keberhasilan, meredam kritik struktural, dan menjaga legitimasi kekuasaan di tengah stagnasi kualitas pembangunan.
Masalahnya, klaim tersebut bukan sekadar kekeliruan statistik. Ia menyesatkan. Angka yang seharusnya berfungsi sebagai alat diagnosis ekonomi justru direduksi menjadi instrumen propaganda politik.
Pertanyaan kuncinya bukan pada besar kecilnya pertumbuhan, melainkan siapa yang memproduksi narasi atas angka tersebut, untuk kepentingan apa, dan dengan konsekuensi politik apa. Narasi “juara ekonomi” bekerja dengan logika yang cacat dan sekaligus menyesatkan.
Membandingkan negara berkembang dengan negara maju seolah-olah mereka ada di lintasan yang sama. Ini juga merupakan bentuk distorsi yang keliru. Menempatkan Indonesia sejajar dengan Amerika Serikat, Jepang, atau Korea Selatan untuk memberi kesan prestasi luar biasa. Padahal struktur ekonomi, basis produktivitas, dan posisi dalam pembagian kerja global sangat berbeda.
Dilihat dari fungsi ekonomi dalam sistem kapitalisme global, posisi Indonesia adalah pemasok bahan mentah, pasar konsumsi, dan lokasi ekstraksi nilai murah. Sebaliknya, negara-negara maju adalah pusat akumulasi modal, teknologi, dan inovasi. Dalam struktur seperti ini, pertumbuhan tinggi di negara berkembang sering kali justru menandakan intensifikasi eksploitasi sumber daya dan tenaga kerja, bukan lompatan kesejahteraan.


















































