Kisah Atlet Gagal Ginjal dan Harapan Baru Lewat Terapi CAPD

7 hours ago 7

loading...

Ketua Umum Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), Tony Richard Samosir, mengatakan banyak pasien gagal ginjal baru mengetahui alternatif terapi. Foto: SINDOnews/HO/Dok Pribadi

JAKARTA - Dunia olahraga tidak selalu identik dengan tubuh yang sehat selamanya. Sejumlah atlet bahkan harus menghadapi penyakit kronis setelah kariernya berakhir. Salah satunya dialami Amin Ikhsan, mantan atlet senam asal Jawa Barat yang kini harus menjalani cuci darah bertahun-tahun akibat gagal ginjal.

Amin pernah memperkuat Kabupaten Bekasi pada ajang Pekan Olahraga Daerah (Porda) XIII/2014. Meski sudah merasakan gangguan kesehatan saat itu, ia tetap memaksakan diri tampil demi membela daerahnya. Setelah kompetisi tersebut, dokter memvonisnya menderita gagal ginjal.

Sejak saat itu, kehidupannya berubah drastis. Amin harus menjalani terapi cuci darah secara rutin untuk bertahan hidup. Selain biaya yang besar, proses cuci darah juga membawa dampak fisik dan psikologis yang tidak ringan.

Baca Juga: Pasien Cuci Darah di Indonesia Tembus 200 Ribu, Menkes Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini

Pasca pensiun dari dunia olahraga, Amin bertahan hidup dengan mengandalkan usaha yang dimilikinya di kawasan Kebonwaru, Batununggal, Bandung, Jawa Barat. Kondisi tersebut menggambarkan bagaimana penyakit kronis bisa mengubah kehidupan seorang mantan atlet secara drastis.

Kisah Amin bukanlah kasus tunggal. Banyak pasien gagal ginjal, termasuk mereka yang pernah aktif berolahraga, harus bergantung pada terapi dialisis sepanjang hidup.

Kisah Rudi: Bertahun-tahun Bergantung pada Cuci Darah

Cerita serupa juga dialami Rudi (bukan nama sebenarnya), seorang pasien gagal ginjal yang telah menjalani terapi hemodialisis selama lebih dari satu dekade.

Selama bertahun-tahun, ia harus datang ke rumah sakit dua kali setiap minggu untuk menjalani cuci darah. Setiap kunjungan berarti antrean panjang, jarum yang kembali menusuk akses pembuluh darah, serta waktu kerja yang terpaksa ia tinggalkan.

Sebagai tulang punggung keluarga, Rudi sering dihantui kekhawatiran bahwa kondisinya dapat memengaruhi pekerjaannya.

“Saya pikir memang hanya itu satu-satunya cara untuk bertahan hidup,” ujarnya.
Saat itu, ia mengaku tidak pernah mendapatkan informasi memadai mengenai pilihan terapi lain bagi pasien gagal ginjal. Baginya, hemodialisis adalah satu-satunya metode pengobatan yang ia ketahui.

Mengenal Terapi CAPD

Baru setelah berdiskusi dengan sesama pasien di komunitas cuci darah, Rudi mengetahui adanya metode terapi lain bernama Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD).

Terapi ini memungkinkan pasien melakukan proses dialisis secara mandiri di rumah dengan kontrol rutin ke rumah sakit setiap bulan. “Kenapa tidak dari dulu saya tahu?” kata Rudi.

Read Entire Article
Prestasi | | | |