Menanti Jurus Pemerintah Mengatasi Krisis Beras di Ritel Modern

4 hours ago 5

loading...

Khudori, Anggota Komite Ketahanan Pangan INKINDO dan Pegiat Komite Pendayagunaan Pertanian dan AEPI. Foto/Dok.SindoNews

Khudori
Anggota Komite Ketahanan Pangan INKINDO
Pegiat Komite Pendayagunaan Pertanian dan AEPI

SEJARAH kembali berulang. Krisis beras tengah menimpa jaringan ritel modern di Tanah Air. Pilihan beras aneka merek, terutama beras premium, semakin terbatas. Situasi ini sudah berlangsung 4-5 bulan terakhir. Ini mengulang kejadian tahun lalu ketika ramai isu "beras oplosan" yang diikuti raibnya beras premium dari jaringan ritel modern.

Kelangkaan beras premium diikuti terbatasnya beras fortifikasi. Beras yang diperkaya vitamin atau mineral itu kian sulit didapat. Ini terjadi seiring keluarnya perintah penarikan 25 merek beras fortifikasi yang diduga tidak sesuai standar mutu dan kandungan yang ada di label kemasan oleh otoritas, 15 September lalu. Jika semula konsumen bisa mengalihkan pembelian beras premium ke beras fortifikasi pada harga terdekat, keterbatasan beras fortifikasi menyulitkan konsumen mengakses beras.

Fenomena itu terjadi di hipermarket, supermarket, dan minimarket di sejumlah daerah. Ketika berkunjung ke salah satu supermarket dekat rumah, pekan lalu, rak yang biasanya diisi beras diganti barang lain. "Sudah beberapa hari beras kosong. Karena ada penarikan produk," jelas penjaga yang bertugas. Di dua gerai lain, yang ada beras khusus, yakni beras merah, dan beras SPHP kualitas medium yang dikelola BULOG.

Untuk mengatasi krisis beras di ritel modern, pemerintah mengandalkan BULOG. Manajemen BULOG menjelaskan menggelontorkan 110.000 ton beras setiap bulan ke jaringan ritel modern. Terdiri 75.000 ton beras premium dan 35.000 ton beras medium. BULOG juga menyiapkan 300.000 ton cadangan beras pemerintah (CBP) untuk diolah jadi beras premium dengan melibatkan Perpadi. Sependek pengetahuan penulis, yang CBP ini belum disetujui.

Read Entire Article
Prestasi | | | |