loading...
Pejalan kaki melewati papan reklame raksasa yang menampilkan Presiden AS Donald Trump dan kata-kata Balas dendam tak terhindarkan di persimpangan Jalan Jomhuri dan Jalan Vali-e Asr di Teheran, Iran, pada 28 Juli 2026. Foto/Fatemeh Bahrami/Anadolu Agency
TEHERAN - Negara-negara Arab yang dekat dengan konflik Iran-Israel dipersatukan oleh satu tujuan utama yaitu menghindari konflik. Pendapat itu diungkap Zeidon Alkinani, direktur pendiri Arab Perspectives Institute dan peneliti non-residen di Dewan Urusan Global Timur Tengah.
Pengekangan tersebut, menurut Alkinani, adalah tujuan yang disengaja dan dinyatakan secara publik di seluruh wilayah.
“Satu kepentingan bersama, dan satu tujuan bersama, yang sudah sangat umum dan sangat kuat di antara semua negara Arab yang secara geografis sangat dekat dengan konflik ini adalah untuk memastikan mereka menghindari konfrontasi langsung, dan tidak jatuh ke dalam lubang kelinci yang berakhir dengan menjadi bagian dari serangan saling balas,” katanya kepada Al Jazeera.
Pihak-pihak yang bertikai justru mengambil jalan lain, mencoba memperluas konflik, bukannya membendung konflik.
“Sepertinya ada dua tujuan dan kepentingan yang sama antara Iran dan Israel dalam konflik ini, meskipun ada konfrontasi langsung satu sama lain, yaitu mereka berusaha memastikan konflik menjadi lebih multilateral,” ujar dia.
Dia menjelaskan, “Iran ingin negara-negara Teluk Arab merasa bahwa kerangka keamanan eksistensial mereka saling terhubung; kita selalu membahas bagaimana Israel ingin memastikan bahwa negara tersebut memberikan indikasi geopolitik kepada dunia, dan khususnya kepada Iran, bahwa Levant, dan negara-negara yang menjadi proyek besar Israel, adalah lingkungan geopolitik regional mereka, [bahwa mereka] berada di garis merah.”
Baca juga: Iran Beli 400 Sistem Pertahanan Udara China, Pengiriman Pertama Segera Tiba
(sya)


















































