Seniman multidisipliner Sarita Ibnoe, yang telah berkarya dan berpameran sejak 2013, dikenal melalui praktik artistiknya yang berakar pada tekstil—khususnya teknik tenun. Dari medium tersebut, karyanya kemudian berkembang ke berbagai bentuk ekspresi lain seperti instalasi, performans, hingga karya partisipatori. Bagi Sarita, proses menenun bukan sekadar teknik artistik, melainkan cara untuk merangkai pengalaman hidup menjadi sebuah narasi visual. Dalam pameran ini, ia menampilkan sejumlah karya seperti Unaccustomed, The New Art Teacher Series – Non-Technical Skills: Gestures and Watercolour #1, Resistance, serta Note. Karya-karya tersebut merefleksikan perjalanan personal sekaligus respons terhadap berbagai peristiwa sosial yang ia saksikan.
Salah satu karya yang menonjol adalah Resistance, yang terinspirasi dari gelombang gerakan resistensi yang terjadi di Jakarta—sebuah peristiwa sosial yang dalam prosesnya menelan korban jiwa. Melalui karya ini, Sarita menghadirkan refleksi sekaligus penghormatan terhadap peristiwa tersebut. Penggunaan warna hijau dan merah muda menjadi simbol solidaritas dan kekuatan kolektif masyarakat, sebuah penanda bahwa dalam situasi krisis, kekuatan sering kali lahir dari kebersamaan.
Sebagai perempuan yang berkarya di bidang seni, Sarita melihat bahwa kontribusi perempuan dalam ekosistem kreatif saat ini semakin terlihat dan signifikan. Menurutnya, perempuan tidak hanya hadir sebagai pencipta karya, tetapi juga sebagai penggerak berbagai aspek dalam dunia seni.“Perempuan kini tidak hanya hadir sebagai pencipta karya, tetapi juga sebagai penggerak ekosistem seni—sebagai kurator, peneliti, pendidik, hingga penghubung komunitas,”jelasnya.Ia juga menekankan pentingnya ruang yang memungkinkan seniman untuk saling terhubungdan berbagi pengalaman.
“Ruang seperti ini penting untuk membangun komunitas di antara seniman, untuk berbagi cerita dan saling mendukung. Ketika kita saling terhubung, ekosistem kreatif bisa berkembang dengan lebih sehat.” tutup Sarita.
Ekosistem Kreatif yang Membuka Ruang Perspektif
Bagi Nuanu, membangun ekosistem kreatif bukan sekadar menghadirkan ruang fisik bagi praktik seni, tetapi juga menciptakan lingkungan di mana berbagai perspektif dapat bertemu dan saling memperkaya.“Galeri bukan hanya tempat memamerkan karya, tetapi juga ruang untuk membangun percakapan,” ujar Samuel David, Gallery Manager Labyrinth Art Gallery. “Kami ingin memastikan bahwa platform seperti Labyrinth dapat menghadirkan seniman dari berbagai latar belakang dan memberikan ruang bagi perspektif yang beragam—termasuk suara dan pengalaman perempuan dalam praktik seni.”
Ketika seniman dari latar belakang yang berbeda memiliki ruang untuk berbagi gagasan, percakapan kreatif yang lahir menjadi lebih dinamis dan relevan dengan dinamika masyarakat. Melalui ekosistem yang terus berkembang, Nuanu berupaya menghadirkan ruang bagi praktik artistik yang beragam sekaligus mendorong dialog kreatif yang lebih inklusif—di mana berbagai suara, termasuk perspektif perempuan, dapat hadir dan berkontribusi dalam membentuk lanskap seni yang terus bergerak ke depan.


















































