loading...
Pasukan AS di Timur Tengah. Foto/mehr
WASHINGTON - Militer Amerika Serikat (AS) mungkin akan mempertimbangkan kembali skala kehadiran militernya di Timur Tengah jika perdamaian tercapai antara Amerika Serikat dan Iran. Rencana itu dilaporkan CNN pada hari Selasa (8/9/2026) dengan mengutip sejumlah sumber.
Diskusi tertutup sedang dilakukan mengenai kemungkinan AS mengurangi kehadiran militernya yang signifikan di kawasan tersebut setelah tercapainya perdamaian dengan Iran.
Laporan itu menyoroti saat ini terdapat 50.000 personel serta berbagai aset militer udara, darat, dan laut yang dikerahkan di Timur Tengah.
Selain meninjau kembali jumlah pasukan, pihak militer juga mempertimbangkan opsi untuk memperkuat pertahanan guna melindungi personel yang akan tetap bertugas sebagai bagian dari kekuatan yang telah dikurangi.
Peningkatan pertahanan ini mencakup kemungkinan pembangunan fasilitas bawah tanah yang lebih tahan terhadap serangan Iran.
Skenario-skenario yang sedang dievaluasi tersebut dapat mulai diterapkan paling cepat pada tahun 2027, menurut laporan itu, namun dicatat pula bahwa kecil kemungkinannya perubahan postur militer akan dilakukan selama konflik masih berlangsung.
Selain itu, meskipun Washington berharap dapat mempertahankan beberapa pangkalan utamanya, pembangunan kembali pangkalan-pangkalan tersebut mungkin bergantung pada kesediaan negara tuan rumah untuk berkontribusi secara finansial dalam prosesnya.


















































