loading...
Ilustrasi struktur kulit elektronik neuromorfik pada tangan robot; teknologi ini memungkinkan mesin merespons rangsangan nyeri dengan refleks cepat tanpa melalui pemrosesan data di otak utama. Foto: ist
BEIJING - Imajinasi fiksi ilmiah tentang robot yang bisa merasakan sakit kini bukan lagi sekadar khayalan. Di pengujung 2025, para peneliti di China berhasil menembus batas teknologi dengan menciptakan kulit elektronik neuromorfik (Neuromorphic Robotic E-Skin atau NRE-skin).
Inovasi ini memungkinkan robot humanoid memiliki refleks biologis layaknya manusia: menarik diri seketika saat menyentuh benda tajam atau berbahaya, bahkan sebelum "otak" digital mereka sempat memproses apa yang terjadi.
Terobosan yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences ini menjawab tantangan terbesar dalam evolusi robotika modern.
Selama ini, robot adalah entitas yang "bebal"; ketika sensor mereka mendeteksi tekanan berlebih, data harus dikirim ke unit pemrosesan pusat (CPU), dianalisis, baru kemudian perintah motorik dikirim balik untuk bergerak.
Jeda waktu atau latensi ini, meski hanya sepersekian detik, seringkali fatal dan menyebabkan kerusakan pada robot maupun manusia di sekitarnya.
Mimikri Sistem Saraf Manusia
Kulit elektronik baru ini bekerja dengan memotong birokrasi data tersebut. Alih-alih bergantung pada pemrosesan terpusat yang lambat, NRE-skin meniru arsitektur sistem saraf manusia.
Sama seperti saat tangan manusia menyentuh panci panas, saraf sensorik langsung mengirim sinyal ke sumsum tulang belakang untuk memicu refleks tarik tangan—bahkan sebelum otak sadar akan rasa sakit itu—kulit robot ini pun demikian.














































