Data Bocor, Sistem Manual, SDM Minim: Kritik Riot Games Bikin Komdigi Disorot

2 hours ago 10

loading...

Kritik dari Riot Games membuka fakta yang selama ini diabaikan: sistem ada, tapi belum tentu siap menghadapi realitas industri global. Foto: Gemini

JAKARTA - Kritik tajam dari petinggi Riot Games terhadap sistem rating gim Indonesia membuka persoalan yang lebih besar: apakah Indonesia benar-benar siap mengelola industri gim global dengan standar keamanan yang memadai?

Gelombang kritik terhadap Indonesia Game Rating System (IGRS) memuncak setelah Nic McConnell, Manager Age Rating Riot Games, secara terbuka menyoroti kelemahan sistem tersebut.

Pernyataan itu bukan sekadar opini, melainkan refleksi pengalaman langsung Riot Games saat mendaftarkan produknya ke sistem rating Indonesia.
McConnell menyoroti dua persoalan utama: kerentanan keamanan data dan keterbatasan sumber daya manusia (SDM) di bawah Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Menurutnya, sistem IGRS saat ini masih menggunakan pendekatan konvensional. Developer diwajibkan mengisi survei dan mengunggah materi seperti video gameplay dan gambar melalui tautan, umumnya menggunakan Google Drive.

Dalam praktiknya, akses terhadap file tersebut sering diminta ulang oleh berbagai staf secara terpisah.

“Saya tidak kaget kalau ada tautan yang akhirnya terbuka lebih luas dari yang seharusnya saat proses manual itu terjadi,” ujar McConnell.
Pernyataan ini menjadi relevan setelah muncul dugaan kebocoran data yang melibatkan ribuan email developer serta konten sensitif, termasuk bocoran gameplay dan ending gim AAA seperti 007: First Light.

Masalah Fundamental: Sistem Manual di Industri Digital

Masalah utama yang diangkat bukan sekadar insiden kebocoran, tetapi struktur sistem itu sendiri.

Dalam industri yang bergerak cepat seperti gim—yang terintegrasi dengan platform global seperti Steam—ketergantungan pada proses manual menjadi risiko besar.

Read Entire Article
Prestasi | | | |