Eldest Daughter Syndrome: 7 Ciri Perempuan Sulung Terbiasa Kuat tapi Punya Beban Berat

3 days ago 10

Fimela.com, Jakarta Menjadi anak perempuan pertama bukan hanya soal urutan lahir sering kali, ini adalah identitas yang membentuk cara berpikir, bertindak, hingga cara mencintai diri sendiri dan orang lain.

Belakangan, istilah “Eldest Daughter Syndrome” makin populer, apalagi setelah Taylor Swift merilis lagu bertema serupa dalam album The Life of A Showgirl. Banyak perempuan merasa relate: tumbuh dengan ekspektasi tinggi, harus selalu kuat, dewasa sebelum waktunya, dan sering dianggap “pengganti orang tua kedua”.

Meski bukan istilah medis resmi, fenomena ini seperti yang dilansir dari laman womenshealthmag.com, memberi ruang bagi banyak perempuan untuk memahami peran yang mereka jalani sejak kecil baik yang membentuk kekuatan maupun luka yang tersembunyi.

Jika kamu adalah anak perempuan sulung atau pernah dekat dengan sosok tegar yang jarang bercerita, tujuh tanda berikut mungkin tidak akan terasa asing bagimu.

1. Selalu Merasa Harus Bertanggung Jawab

Sejak kecil kamu terbiasa memikirkan orang lain sebelum diri sendiri. Mulai dari mengawasi adik, membantu pekerjaan rumah, sampai menjadi “penengah” saat konflik keluarga. Tanpa sadar, kamu tumbuh dengan mindset bahwa kamu harus memastikan semuanya aman bahkan ketika kamu sendiri sedang lelah.

Di luar, kamu terlihat dewasa dan mandiri. Tapi di dalam hati, kadang kamu hanya ingin ada seseorang yang berkata, “Kamu boleh istirahat. Kamu tidak harus selalu kuat.”

2. Sulit Bilang Tidak dan Sering Jadi Yes Person

People-pleasing jadi pola perilaku khas. Entah itu pekerjaan tambahan, permintaan tolong, atau ajakan yang sebenarnya ingin kamu tolak kamu tetap mengiyakan karena tidak ingin mengecewakan siapa pun.

Batas antara peduli dan berkorban terlalu banyak pun jadi kabur.

3. Cenderung Mudah Cemas dan Overthinking

Karena terbiasa jadi problem solver sejak dulu, otakmu refleks memikirkan kemungkinan buruk. Liburan? Kamu atur detailnya. Acara keluarga? Kamu pastikan semuanya berjalan baik. Dan ketika ada yang tidak sesuai rencana, kamu merasa itu salahmu meski jelas bukan.

4. Validasi dari Orang Lain Sangat Berarti

Kamu mungkin jarang menunjukkannya, tapi pujian, pengakuan, atau apresiasi kecil bisa membuatmu merasa benar-benar terlihat. Sebaliknya, kritik atau kegagalan bisa terasa personal seolah kamu mengecewakan banyak orang, bukan hanya dirimu sendiri.

5. Ada Rasa Marah atau Lelah yang Terpendam

Sebagian anak sulung tumbuh dengan pengalaman yang membuat mereka cepat dewasa terkadang terlalu cepat. Di balik karakter yang selalu siap membantu, ada momen ketika kamu pernah diam-diam iri pada adikmu karena mereka punya masa kecil yang lebih ringan.

Dan tidak apa-apa kalau perasaan itu pernah ada. Itu manusiawi.

6. Sering Kesulitan Membuat Batasan Sehat

Karena terbiasa diandalkan, kamu jarang diajari cara melindungi diri sendiri. Saat mulai belajar batasan seperti tidak langsung membalas pesan, menolak pekerjaan tambahan, atau memilih diri sendiri kamu mungkin merasa bersalah.

Padahal, batasan bisa menjadi semacam pagar yang mengatur energi dan menghormati harga dirimu.

7. Perfeksionis dan Overachiever tanpa Disadari

Selalu ingin yang terbaik, selalu ingin menjadi kebanggaan karakter ini sering muncul pada anak perempuan sulung. Kamu mungkin merasa harus berhasil dalam standar “kehidupan ideal”: karier, pendidikan, finansial, hubungan, bahkan citra diri.

Namun, terkadang kamu lupa bahwa kegagalan bukan akhir itu bagian dari proses menjadi manusia yang utuh.

Bagaimana Menghadapi Polanya dengan Lebih Sehat?

Jika kamu merasa relate dengan tanda-tanda di atas, berikut beberapa langkah kecil yang bisa dicoba:

  • Belajar menerima bantuan tanpa merasa bersalah.
  • Latihan bilang “tidak” tanpa penjelasan panjang.
  • Rayakan progress kecil, bukan hanya hasil besar.
  • Beri ruang pada diri sendiri untuk istirahat bahkan sebelum kamu merasa kelelahan.
  • Jika perlu, cari ruang aman seperti journaling, support system, atau bantuan profesional.
  • Kamu tumbuh dengan kekuatan luar biasa: mandiri, adaptif, berani, dan penuh empati. Tetapi kamu juga boleh saja merasa lelah, bingung, atau tidak sempurna.
  • Kamu tidak harus menjadi yang paling kuat setiap waktu.
  • Kamu tidak harus memikul semuanya sendirian.

Dan yang paling penting:

Kamu pantas dicintai, bukan karena apa yang kamu lakukan, tapi karena dirimu apa adanya.

Kalau kamu seorang anak perempuan sulung, mungkin ini saatnya berkata lembut pada diri sendiri: “Aku sudah melakukan yang terbaik. Sekarang aku juga berhak merasa ringan.”

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Endah Wijayanti
Read Entire Article
Prestasi | | | |