EV Mudah Meledak dan Harga Baterai Mahal, Singapura Kembali ke Mobil Bensin

3 hours ago 6

loading...

Mobil listrik mudah terbakar. FOTO/ CE Safety

SINGAPURA - Sebanyak 32% warga Singapura yang disurvei oleh EY mengatakan mereka berencana untuk membeli kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) dalam dua tahun ke depan, naik dari 26% pada tahun 2024.

Temuan ini dikaitkan dengan kekhawatiran yang masih ada tentang infrastruktur pengisian daya dan biaya tersembunyi kepemilikan kendaraan listrik, menurut Indeks Konsumen Mobilitas (MCI) EY 2025 yang diterbitkan pada 9 Januari 2026.

Tren di Singapura juga mencerminkan pola global karena beberapa konsumen kembali ke pilihan yang lebih konvensional, meskipun pendaftaran kendaraan listrik diperkirakan akan tetap tinggi pada tahun 2025.

Singapura Pasar Kendaraan Listrik Terkemuka, Tetapi Kepercayaan Konsumen Lemah

Singapura sering dianggap sebagai pasar utama untuk adopsi kendaraan listrik di Asia Tenggara. Namun, penelitian EY menunjukkan kepercayaan konsumen masih belum sepenuhnya terbentuk.

Survei terhadap 300 calon pembeli mobil lokal menemukan bahwa kekhawatiran praktis, khususnya kesenjangan dalam jaringan pengisian daya dan biaya penggantian baterai, kini menjadi faktor utama yang mengalahkan optimisme awal tentang mobilitas hijau.

Menurut Sririam Changal dari EY-Parthenon, hasil tahun ini menunjukkan bahwa konsumen Singapura semakin mempertimbangkan kepemilikan kendaraan dengan cara yang lebih hati-hati dan praktis, termasuk mempertimbangkan kembali opsi kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE).

Meskipun minat terhadap kendaraan listrik tetap kuat, persentase yang menyatakan minat untuk membeli kendaraan listrik dalam dua tahun ke depan telah menurun. Studi tersebut menemukan bahwa 58% calon pembeli di Singapura tertarik untuk membeli kendaraan listrik, dibandingkan dengan 73% pada tahun 2024.

Read Entire Article
Prestasi | | | |