loading...
Seorang wanita sedang mengisi bahan bakar di pom bensin saat harga bahan bakar melonjak di Manhattan, Kota New York, AS, 7 Maret 2022. FOTO/Reuters
NEW YORK - Harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat (AS) diperkirakan tetap tinggi seiring berlanjutnya perang dengan Iran dan terganggunya lalu lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump meminta masyarakat menerima kenaikan harga bensin tersebut sebagai konsekuensi dari upaya mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
"Selat ini hanya akan dibuka dan ditutup atas perintah Iran, dan selama Anda tidak menerima kenyataan kekalahan serta berhenti memanjakan diri dengan khayalan, Iran akan terus memberlakukan blokade," tulis Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi di platform X dikutip dari Reuters, Minggu (16/8/2026).
Baca Juga: Gertak Balik AS, Iran Minta Trump Berhenti Berkhayal Kuasai Selat Hormuz
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Teheran belum memutuskan untuk kembali melakukan perundingan dengan Washington. Dalam wawancara dengan media Iran Shahrara News yang diterbitkan Sabtu, Araqchi mengatakan AS harus memenuhi persyaratan terkait Selat Hormuz agar pelayaran dapat kembali berlangsung melalui jalur strategis yang sebelum perang menjadi jalur bagi sekitar seperlima minyak dunia.
Trump dalam kampanye politik di Garden City, New York, pada Jumat mengatakan warga AS harus rela membayar lebih mahal untuk bensin selama konflik dengan Iran berlanjut. Menurut dia kenaikan tersebut sepadan dengan upaya memastikan Iran sebagai "negara yang sangat jahat" tidak memiliki senjata nuklir, yang menjadi salah satu alasan yang dikemukakan Pemerintah AS untuk melancarkan perang.












:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9325041/original/071624300_1786794217-WhatsApp_Image_2026-08-15_at_11.42.34.jpeg)





































