Harga Bensin Naik 2 Kali dalam 9 Hari, Rakyat Suriah Ngamuk: 'Jatuhkan Jolani!'

5 hours ago 10

loading...

Protes kemarahan pecah di berbagai wilayah di Suriah setelah pemerintah menaikkan harga BBM dua kali dalam sembilan hari. Foto/The New Arab

DAMASKUS - Protes kemarahan pecah di berbagai wilayah Suriah, terutama di bagian utara dan timur laut, setelah pemerintah kembali menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) untuk kedua kalinya dalam sembilan hari. Para demonstran meneriakkan "Jatuhkan Jolani!", mengacu pada nama perang Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa.

Kenaikan harga BBM tersebut semakin membebani masyarakat yang sudah terpukul akibat perang saudara berkepanjangan, terutama bagi para petani.

Baca Juga: Israel Kuasai Gunung Hermon Suriah, Mengapa Negara-negara Arab Murka?

Harga solar naik 40% menjadi 175 pound Suriah (Rp23.300) per liter, sementara bensin naik 28% menjadi 185-195 pound Suriah (Rp24.600-25.900) per liter, menurut kantor berita pemerintah; SANA.

Kementerian Energi Suriah menyebut kenaikan harga BBM tersebut sebagai "langkah sementara" yang diberlakukan akibat meningkatnya biaya pengadaan bahan bakar di pasar global di tengah perang Iran dan krisis di Selat Hormuz.

Kementerian tersebut mengatakan Suriah saat ini terdampak kenaikan biaya global untuk pengadaan bensin, solar, dan bahan bakar minyak lainnya. Selain itu, penghentian sementara operasional kilang Baniyas untuk pemeliharaan membuat Suriah harus meningkatkan impor produk minyak selama periode perawatan.

Penyesuaian harga tersebut, menurut kementerian, "Bertujuan memastikan kelancaran pasokan produk minyak dan ketersediaannya di pasar domestik, di tengah meningkatnya biaya pasokan serta kebutuhan untuk memenuhi permintaan selama kilang ditutup."

Suriah memproduksi sekitar 100.000 barel minyak per hari, sementara kebutuhan domestik diperkirakan mencapai sekitar 300.000 barel per hari.

Dampak Berat di Jantung Pertanian Suriah

Segera setelah pemerintah mengumumkan harga baru, protes kemarahan pecah di sejumlah provinsi. Para demonstran memblokir jalan-jalan utama dan menghentikan truk tangki minyak yang menuju kilang Homs.

Protes terbaru juga terjadi di tengah meningkatnya demonstrasi akibat memburuknya kondisi ekonomi. Berdasarkan data ACLED yang dikutip analis Suriah; Muaz al-Abdullah, 45% protes yang tercatat di Suriah selama pekan pertama September didorong tuntutan ekonomi.

Namun, aksi tersebut paling menonjol di wilayah timur laut Suriah. Demonstrasi di Hasakah dan Deir Ezzor bahkan berkembang menjadi lebih konfrontatif.

Abdullah mengatakan aksi protes telah menjadi "lebih keras", di mana demonstran membakar ban dan mendirikan barikade untuk memblokir jalan-jalan utama, termasuk jalan raya M5 yang menghubungkan Suriah bagian utara dan selatan.

"Barikade digunakan untuk memutus akses jalan, dan ini merupakan sesuatu yang sebelumnya tidak sering kita lihat di Suriah," kata Abdullah kepada The New Arab, Selasa (15/9/2026). Dia mencatat bahwa sebagian besar demonstrasi sejak jatuhnya rezim mantan diktator Bashar al-Assad pada Desember 2024 berlangsung secara damai.

Protes tersebut juga menjadi perhatian karena terjadi setelah kenaikan harga BBM kedua hanya dalam waktu sembilan hari. Kenaikan pertama diumumkan pada 4 September, disusul kenaikan berikutnya pada 13 September.

Menurut Abdullah, protes tidak seharusnya dipandang semata-mata sebagai reaksi terhadap kenaikan harga BBM terbaru, tetapi sebagai akumulasi persoalan ekonomi dan sosial yang semakin membesar.

"Tentu saja, protes ini bisa berubah menjadi tantangan bagi pemerintah. Ini sangat signifikan. Semua ini merupakan akibat dari krisis yang menumpuk dan memburuknya kondisi sosial ekonomi di Suriah," ujarnya.

Harga bahan bakar memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan sehari-hari, mulai dari transportasi, produksi pangan, pemanas rumah hingga layanan dasar.

Dampaknya diperkirakan semakin berat di wilayah timur laut Suriah, termasuk Hasakah, Deir Ezzor, dan Raqqa. Wilayah tersebut merupakan jantung pertanian Suriah dan menjadi salah satu penghasil utama gandum negara tersebut.

"Timur laut Suriah, khususnya Hasakah dan Deir Ezzor, merupakan wilayah penghasil minyak di Suriah. Namun sekarang mereka tidak mampu memperoleh layanan dasar dan menjalankan aktivitas sehari-hari akibat kenaikan harga BBM," kata Abdullah.

Read Entire Article
Prestasi | | | |