Krisis Moral: Membongkar Lapisan Kebohongan di Dunia Modern

3 hours ago 5

loading...

Salim Ketua Dewan Pakar KPPMPI Kandidat Doctor Universitas Airlangga. Foto/istimewa

Salim

Ketua Dewan Pakar KPPMPI
Kandidat Doctor Universitas Airlangga

KRISIS moral bangsa Indonesia semakin mengkhawatirkan, seiring perkembangan zaman yang dipenuhi dengan tantangan globalisasi. Di tengah hiruk-pikuk modernisasi, pemimpin dan pejabat pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, tampak semakin tergerus oleh sifat egois dan ambisi pribadi.

Rasa empati terhadap penderitaan rakyat kian memudar, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap integritas dan komitmen mereka tergerus. Sistem yang seharusnya menjadi landasan bagi kebaikan bersama malah tergantikan oleh praktik-praktik korupsi dan kepentingan sesaat.

Dalam suasana ini, kita harus merenung: ke mana arah bangsa ini? Apakah kita rela membiarkan nilai-nilai luhur bangsa terperosok dalam jurang kesenangan dan kepentingan pribadi? Sudah saatnya kita bersatu untuk membangkitkan kembali rasa keadilan dan kasih sayang, demi masa depan yang lebih cerah dan bermartabat. Mari kita ubah krisis ini menjadi momentum untuk memperbaiki dan membangun moralitas yang lebih kuat.

Krisis moral semakin melanda, berakar dari kebohongan yang terjalin dalam tatanan keluarga, masyarakat, dan negara. Filsafat manusia mengajarkan bahwa sifat cenderung berbohong akan membentuk struktur yang rapuh, hanya menunggu waktu untuk ambruk. Sejarawan dan pemimpin yang sering menipu rakyatnya seperti Joseph Stalin dan mantan presiden Amerika Serikat yang terlibat skandal menjadi contoh nyata bahwa kebohongan tidak bisa bertahan lama.

Dalam dunia hiburan, artis papan atas seperti Kevin Spacey dan Harvey Weinstein, yang terperangkap dalam skandal, membuktikan bahwa kepalsuan akan terungkap pada akhirnya. Kebohongan terbesar adalah kebohongan terhadap diri sendiri, yang menjadi cikal bakal kesombongan yang sangat tidak disukai Tuhan. Ketika individu gagal jujur kepada diri sendiri, seluruh tatanan moral masyarakat mulai runtuh, menciptakan dampak yang merusak bagi peradaban.

Karakter geografi dan lingkungan di sekitar kita memainkan peran penting dalam pembentukan anak dan remaja. Saat ini, generasi muda jauh berbeda dari generasi sebelumnya, terpengaruh oleh perkembangan teknologi dan nilai-nilai yang berubah. Orang tua, teman, dan lingkungan memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter individu. Ketidakmampuan untuk menginternalisasi nilai-nilai baik dapat mengakibatkan hilangnya karakter, yang akan berimplikasi serius ketika anak-anak ini dewasa.

Filsafat dunia modern sering menggambarkan bahwa banyak dari apa yang kita lihat sebagai kemajuan hanya bersifat semu, menjebak kita dalam lingkaran hawa setan yang merusak peradaban. Manusia seharusnya menjadi pemelihara kehidupan dan penyeimbang alam, tetapi ego dan naluri iblis sering kali mendominasi, menghancurkan potensi sejatinya. Di tengah segala tantangan ini, kekerasan dan penindasan berakar dari pembinaan hati yang tidak memadai dan pengelolaan emotional intelligence yang lemah.

Read Entire Article
Prestasi | | | |