Fimela.com, Jakarta - Kediri kerap disebut sebagai salah satu permata tersembunyi di Jawa Timur. Dikelilingi pegunungan, sungai, dan hamparan hijau yang menenangkan, kota ini menawarkan keindahan alam yang jauh dari kesan hiruk pikuk destinasi wisata populer. Udara sejuk, jalanan berkelok di lereng gunung, serta lanskap yang masih asri membuat Kediri menjadi tempat ideal bagi siapa pun yang ingin melambat sejenak dari rutinitas.
Di antara pesona alam itulah, berdiri sebuah tempat yang tidak hanya menyatu dengan lingkungan sekitarnya, tetapi juga menyimpan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain. Berada di kaki Gunung Wilis, tersembunyi di balik pepohonan dan perbukitan, Gereja Puhsarang perlahan menjelma menjadi destinasi favorit banyak orang, bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga ruang refleksi, wisata budaya, dan perjumpaan lintas latar belakang.
Berbeda dengan gereja pada umumnya yang menjulang tinggi di tengah kota, Gereja Puhsarang justru “merunduk” dan menyatu dengan tanah. Kompleks ini dirancang oleh Romo Wolterus Westerbeek, SJ, seorang pastor Jesuit yang memiliki kecintaan mendalam terhadap arsitektur dan budaya Jawa. Alih-alih mengadopsi gaya Eropa, ia memilih pendekatan arsitektur Majapahit, menghadirkan bangunan dari batu bata merah, punden berundak, serta struktur menyerupai candi.
Inkulturasi Iman dan Budaya
Pendekatan tersebut bukan sekadar estetika, melainkan simbol inkulturasi iman dan budaya. Bangunan yang dibuat lebih rendah dari permukaan tanah mencerminkan nilai kerendahan hati dan kedekatan manusia dengan Sang Pencipta, konsep yang juga dikenal dalam filosofi Jawa. Tak heran, sejak pertama melangkah masuk, pengunjung langsung merasakan suasana hening dan sejuk yang menenangkan.
Menariknya, Gereja Puhsarang bukanlah satu bangunan tunggal. Kawasan ini merupakan kompleks luas yang menghadirkan pengalaman berlapis. Selain Gereja Tua Puhsarang, terdapat Gua Maria Lourdes, Plaza Santa Maria, Jalan Salib Bukit Golgota, Pondok Rosario Nazareth, hingga Pasar Rosario yang menjadi pusat aktivitas UMKM warga sekitar. Setiap sudutnya menawarkan pengalaman yang berbeda, mulai dari doa, berjalan santai, hingga menikmati sentuhan budaya Jawa modern yang terasa akrab.
Salah satu titik paling ramai dikunjungi adalah Gua Maria Lourdes. Terinspirasi dari gua serupa di Prancis, tempat ini menjadi ruang devosi yang tenang dan tertata. Meski merupakan tempat doa umat Katolik, tidak sedikit pengunjung dari latar belakang lain yang datang untuk sekadar menikmati suasana damai dan keheningan yang menyelimuti area ini.
Tak jauh dari sana, Jalan Salib Bukit Golgota menawarkan pengalaman reflektif yang bersahabat untuk semua usia. Jalurnya relatif landai, mengikuti kontur alami bukit, dan dikelilingi pepohonan rindang. Banyak keluarga memanfaatkannya sebagai rute berjalan santai, menikmati udara pegunungan sambil berbincang ringan menjadikannya ruang kebersamaan yang sederhana namun bermakna.
Toleransi yang Hangat
Keterbukaan inilah yang membuat Gereja Puhsarang terasa inklusif. Akulturasi budaya Katolik dan Jawa menciptakan suasana yang tidak eksklusif. Nilai-nilai universal seperti keheningan, rasa syukur, refleksi diri, dan kebersamaan terasa kuat, sehingga siapa pun dapat menemukan makna personal tanpa harus memiliki latar kepercayaan yang sama.
Kehidupan warga sekitar pun ikut berdenyut melalui Pasar Rosario. Di sini, pengunjung dapat menemukan aneka jajanan tradisional, jamu, kopi lokal, kerajinan tangan, hingga suvenir rohani. Keberadaan pasar ini menjadikan Puhsarang bukan hanya pusat spiritual, tetapi juga ruang ekonomi dan sosial yang menghidupkan masyarakat lokal, terutama saat musim liburan.
Pada momen-momen tertentu seperti Natal, Paskah, Tahun Baru, dan malam Jumat Legi, kawasan Puhsarang terasa semakin hidup. Pengunjung datang dari berbagai daerah di Indonesia, menciptakan suasana toleransi dan kebersamaan yang hangat. Akses menuju lokasi pun kini semakin mudah dengan hadirnya Bandara Internasional Dhoho di Kediri, yang hanya berjarak sekitar 30 menit perjalanan darat.
Lebih dari sekadar tempat ibadah, Gereja Puhsarang adalah ruang perjumpaan antara alam dan budaya, antara pengunjung dan warga, antara keheningan dan kebersamaan. Di sinilah banyak orang memilih berhenti sejenak, berjalan perlahan, dan menikmati momen sederhana bersama keluarga.
Di kaki Gunung Wilis, Kediri menunjukkan wajahnya yang paling hangat dan bermakna. Sebuah destinasi yang tidak hanya dikunjungi, tetapi juga dirasakan.
Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5471160/original/014500800_1768278913-WhatsApp_Image_2026-01-11_at_9.16.35_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5471161/original/031381700_1768278913-WhatsApp_Image_2026-01-11_at_9.16.35_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5470502/original/084572300_1768208228-young-woman-with-bouquet-flowers-white-background.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5471171/original/063688200_1768279276-unnamed-45.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5471013/original/088516800_1768273864-Tanaman_Sawi_dan_Ikan_Lele_untuk_Aquaponik_Galon_Bekas.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5471044/original/040565300_1768275470-Depositphotos_788288054_XL.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5192921/original/068703700_1745207937-woman-having-video-call-laptop.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5466780/original/052967200_1767854697-Menanam_Kangkung_di_Baskom_Bekas_2.jpg)































