loading...
Pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati mengatakan, langkah Letjen TNI Yudi Abrimantyo mundur dari jabatan Kepala BAIS TNI untuk menjaga objektivitas penyelidikan dan penyidikan. Foto/SIndoNews.
JAKARTA - Langkah Letjen TNI Yudi Abrimantyo mundur dari jabatan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, buntut kasus penyiraman air keras ke aktivis KontraS Andrie Yunus dinilai tepat. Hal itu untuk menjaga objektivitas penyelidikan dan penyidikan.
Pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati mengatakan, hal ini baik diberlakukan karena para pelaku adalah anggota Denma BAIS TNI
"Sudah benar Kabais dan Waka diganti karena untuk menjaga objektivitas saat masa penyelidikan dan penyidikan," ujar Nuning, panggilan akrabnya, Jumat (27/3/2026).
Baca juga: 4 Anggota BAIS Terlibat Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS, Ini Analisa Eks KABAIS TNI
Mantan anggota Komisi l DPR ini menyebut, empat terdakwa berada dalam struktur BAIS. Mereka bekerja dalam sistem intelijen yang terintegrasi. Menurut Nuning, mereka tidak lagi bertindak dalam kapasitas operasional matra asal.
"Jika tidak diganti akan menciptakan disorientasi publik. Publik yang tidak memahami struktur militer dapat dengan mudah menyimpulkan ini adalah persoalan matra, bukan persoalan BAIS," katanya.
Nuning menyarankan, institusi Polri berkaca dari mundurnya Ka BAIS TNI, mengingat ada banyak kasus yang mencoreng nama baik Korps Bhayangkara.


















































