Prediksi Kaspersky 2026: Batas Antara Konten Asli dan Palsu Kian Mustahil Dibedakan

2 hours ago 4

loading...

Asia Pasifik kini menjadi pusat gravitasi AI dunia dengan tingkat adopsi 78 persen, namun kecepatan ini membawa konsekuensi fatal bagi lanskap keamanan siber di mana deepfake kian sulit dibendung. Foto: Sindonews/ChatGPT

JAKARTA - Kawasan Asia Pasifik (APAC) tidak lagi sekadar menjadi penonton atau pengikut dalam perlombaan teknologi global. Data terbaru menunjukkan kawasan ini telah berevolusi menjadi penentu kecepatan (pacesetter) dalam adopsi Kecerdasan Buatan (AI).

Namun, hegemoni teknologi ini membawa paradoks tersendiri: semakin canggih infrastruktur digital dibangun, semakin kompleks dan mematikan pula ancaman siber yang mengintainya.

Laporan terbaru Kaspersky mengenai "Prediksi Keamanan Siber 2026" menyingkap realitas baru di mana AI telah berakar kuat dalam sendi kehidupan profesional di Asia.

Sebanyak 78 persen profesional di kawasan ini tercatat menggunakan AI setidaknya setiap minggu dalam alur kerja mereka.

Angka ini melampaui rata-rata global yang berada di level 72 persen. Statistik ini bukan sekadar angka, melainkan indikator bahwa Asia Pasifik—dengan populasi muda yang melek teknologi dan penetrasi perangkat masif—telah bertransformasi menjadi laboratorium AI paling dinamis di dunia.

Deepfake: Ancaman yang Kian "Merakyat"

Momentum adopsi AI yang didorong dari bawah ke atas (bottom-up) ini menjadi peringatan keras bagi para pemimpin keamanan siber (CISO).

Teknologi yang sama yang memacu produktivitas bisnis, kini digunakan secara simetris oleh aktor jahat untuk mengotomatisasi serangan.

Read Entire Article
Prestasi | | | |