Produksi Pangan Terdampak Iklim Ekstrem, Dancerinus Sango Dorong Penguatan Petani Sumba Barat

1 month ago 39

loading...

Anggota DPRD Sumba Barat, Dancerinus Arifin Sango menilai ketahanan pangan dan perlindungan masyarakat jadi perhatian serius dalam perumusan kebijakan daerah. Foto/SindoNews

SUMBA BARAT - Dampak perubahan iklim ekstrem kian dirasakan nyata oleh masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk di Kabupaten Sumba Barat. Hasil riset terbaru yang dipaparkan dalam diskusi publik di Kupang, beberapa waktu lalu mengungkap fakta mengkhawatirkan yakni produksi pangan di sejumlah desa mengalami penurunan hasil antara 20 hingga 40 persen akibat gagal panen.

Temuan tersebut merupakan bagian dari Laporan Riset Dampak Perubahan Iklim yang diinisiasi oleh Program SIAP SIAGA, Kaukus Akademisi Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB), serta Pemerintah Provinsi NTT.

Baca juga: Puluhan Rumah Kampung Adat Waru Wora Terbakar, Perindo Sumba Barat Turun Tangan Salurkan Bantuan

Riset yang dilakukan sepanjang tahun 2025 itu menyoroti enam temuan kunci, di antaranya penurunan tajam ketersediaan air bersih serta meningkatnya risiko kesehatan berbasis cuaca, seperti ISPA, diare, dan demam berdarah.

Penurunan produksi pangan ini tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga berimbas pada pendapatan petani, kenaikan harga kebutuhan pokok, serta melemahnya daya beli keluarga. Khususnya masyarakat pedesaan yang menggantungkan hidup pada hasil pertanian musiman.

Read Entire Article
Prestasi | | | |