loading...
Radar buatan China gagal lindungi Venezuela dari diserang AS. Foto/X/@BowesChay
CARACAS - Serangan AS di ibu kota Venezuela pada Sabtu lalu, yang mengakibatkan penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, menunjukkan bahwa AS mempertahankan keunggulan teknologi atas perangkat keras yang diperoleh dari sekutunya, China.
Serangan di Caracas dapat menjadi pukulan telak bagi reputasi Beijing, karena radar anti-siluman bergerak JY-27A yang dijual ke Venezuela, dan diklaim mampu mendeteksi pesawat siluman generasi kelima seperti F-22 dan F-35 AS dari jarak lebih dari 150 mil, diduga gagal memberikan peringatan dini pada saat kritis.
Pasukan AS membom infrastruktur di beberapa tempat di sekitar Venezuela utara, yang menurut pejabat Venezuela menewaskan lebih dari 80 orang, termasuk warga sipil. Maduro dan istrinya, Cilia Flores, diterbangkan ke New York City di mana mereka menghadapi tuduhan terkait "narkoterorisme." Para kritikus mengatakan operasi tersebut melanggar hukum internasional dan mungkin juga hukum AS, dengan menunjukkan bahwa operasi tersebut diluncurkan tanpa pemberitahuan atau persetujuan kongres sebelumnya.
Para ahli mengatakan serangan dini pagi itu tidak hanya menyoroti kekuatan kemampuan intelijen AS di Caracas, tetapi juga keterbatasan, atau setidaknya efektivitas operasional, radar Tiongkok yang ditempatkan di Venezuela, yang pernah dianggap sebagai salah satu jaringan pertahanan udara paling mumpuni di Amerika Selatan. Tiongkok berupaya meningkatkan profilnya sebagai sumber utama senjata internasional.
Newsweek menghubungi Kementerian Luar Negeri China dan Pentagon melalui permintaan komentar melalui email.














































