RPN Latih 126 Pekebun Simalungun, Bidik Kenaikan Produktivitas Sawit

6 hours ago 7

loading...

Pelatihan Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 yang diikuti 126 pekebun asal Simalungun, Sumatera Utara. FOTO/dok.SindoNews

JAKARTA - Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS)–PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) mendorong penerapan hasil riset dan teknologi untuk meningkatkan produktivitas serta pendapatan pekebun kelapa sawit rakyat. Transfer teknologi tersebut diperkuat melalui Pelatihan Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 yang diikuti 126 pekebun asal Simalungun, Sumatera Utara.

"Manfaatkan kesempatan ini untuk bertanya dan berdiskusi. Bapak, Ibu punya segudang pengalaman di daerah masing-masing. Kalau pengalaman itu diintegrasikan dengan kepakaran, pengetahuan dan informasi dari para narasumber, mudah-mudahan bisa menjadi solusi untuk meningkatkan produktivitas di kebun masing-masing," kata Manager Urusan Pelayanan Jasa Konsultasi PPKS–RPN Agus Eko Prasetyo dalam keterangan pers, Sabtu (19/9/2026).

Baca Juga: BPDP dan RPN Dorong UMKM Jadi Penggerak Hilirisasi Pangan Berbasis Sawit

Hal itu disampaikan saat pembukaan pelatihan di Medan, Sumatera Utara yang berlangsung 13–19 September 2026. Pelatihan teknis budidaya kelapa sawit tersebut diselenggarakan RPN dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) pada 13–19 September 2026. Kegiatan itu menjadi sarana untuk mempertemukan pengetahuan, teknologi, dan hasil penelitian dengan persoalan yang dihadapi pekebun di lapangan.

Agus mengatakan peningkatan produktivitas sawit rakyat tidak cukup dilakukan melalui penambahan pengetahuan, tetapi harus dilanjutkan dengan penerapan teknologi yang sesuai dengan kondisi kebun. Materi mengenai pemupukan, pemeliharaan tanaman, pengendalian gulma dan organisme pengganggu tanaman, hingga pemanenan perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pekebun. "Teknologi-teknologi kita bagaimana bisa terimplementasi dan teraplikasikan dengan baik, khususnya sampai kepada para petani," ujarnya.

Menurut Agus, keberhasilan transfer teknologi tidak hanya diukur dari pemahaman peserta terhadap materi atau kepemilikan sertifikat, tetapi juga dari penerapan pengetahuan yang menghasilkan perubahan di kebun.

Read Entire Article
Prestasi | | | |