loading...
Tulus Abadi. Foto/Istimewa
Tulus Abadi
Pegiat Perlindungan Konsumen, Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia
KAMPUS "ndeso", itulah julukan Unsoed (Universitas Jenderal Soedirman) di Banyumas, Purwokerto , Jawa Tengah. Julukan ndeso itu tidaklah salah salah amat, karena memang posisi kampusnya yang bertengger di kota kecil, level kabupaten, di bawah lereng Gunung Slamet. Tagline ndeso itu juga bermakna Unsoed terkesan "agraris" (minimalis) dari sisi pergaulan dan akses nasional, dan (mungkin) minimalis dari sisi prestasi di kancah nasional, apalagi kancah global.
Tetiba Unsoed menyeruak ke ranah nasional, semua mata menyorot ke Unsoed! Namun, ironisnya bukan karena kiprahnya, bukan karena prestasinya, tetapi karena rektor dan wakil rektornya korupsi! Dan ini terbilang yang kedua kali Rektor Unsoed terjerat kasus korupsi! Alamaak. Ya, rektor dan dua wakil rektor Unsoed dicokok oleh komisi antirasuah ( KPK ), tersebab aksi koruptifnya, yakni melakukan aksi pemerasan kepada calon mahasiswa baru fakultas kedokteran, kisaran Rp650 juta-Rp1,250 miliar. Calon mahasiswa baru dari Fakultas Kedokteran konon dibanderol setor fulus kisaran Rp50 juta-Rp 500 juta.
Bagaimana kita menyikapi kasus OTT (Operasi Tangkap Tangan) Rektor dan dua wakil rektor Unsoed?
Secara mikro, ini sangat meruntuhkan moral mahasiswa dan bahkan alumni Unsoed. Rektor dan Wakil Rektor Unsoed telah merusak citra dan nama baik Unsoed, yang notabene menyandang nama besar seorang pahlawan nasional yang sangat dihormati, yang kebetulan berasal dari telatah Banyumasan, yakni Panglima Besar Jenderal Soedirman. Saya sebagai alumni Fakultas Hukum Unsoed (lulus 1996) pun merasa merasa dipermalukan oleh kasus tersebut. Padahal dalam berbagai forum saya mengenalkan institusi Unsoed, eeh, lha kok malah diremukredamkan oleh perilaku nggragas rektornya sendiri.


















































