loading...
Berbagai senjata berpotensi digunakan AS untuk serangan jilid 2 terhadap Iran, mulai dari jet tempur siluman F-35 hingga rudal Tomahawk. Foto/Wikimedia Commons
WASHINGTON - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menggembar-gemborkan pengeboman tiga situs nuklir Iran pada Juni tahun lalu sebagai salah satu keberhasilan militer terbesarnya. Sekarang, AS dilaporkan bersiap untuk melakukan "serangan jilid 2" terhadap negara Islam tersebut.
Pada serangan tahun lalu, pesawat pengebom B-2 Angkatan Udara AS menjatuhkan 14 bom terbesar di dunia, menghantam dua instalasi nuklir Iran tanpa korban jiwa atau kehilangan pesawat AS, termasuk puluhan jet tempur, pesawat tanker, dan pesawat pendukung yang membantu melaksanakan misi tersebut.
Baca Juga: Iran Tutup Wilayah Udaranya, Serangan AS Dilaporkan Segera Terjadi
Kini Trump mengancam akan menyerang Iran lagi, kali ini dalihnya adalah sebagai bentuk solidaritas dengan ratusan ribu warga Iran yang turun ke jalan untuk menentang rezim garis keras di Teheran.
Namun, menurut para analis, serangan baru AS terhadap Republik Islam Iran kemungkinan besar tidak akan meniru serangan satu kali yang menghantam tiga situs nuklir musim panas lalu.
Serangan untuk mendukung para demonstran perlu difokuskan pada berbagai pusat komando dan target lain yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), pasukan Basij yang berafiliasi dengan IRGC, dan kepolisian Iran, yang merupakan organisasi utama yang melakukan penindakan keras terhadap demonstran.
Lihat Video: Menlu Iran Tuduh AS dan Israel Terlibat Kerusuhan
Namun, pusat-pusat komando Iran tersebut terletak di daerah-daerah padat penduduk, yang berarti ada risiko besar bahwa serangan AS akan membunuh warga sipil yang justru ingin didukung Trump, kata para analis.
Ini artinya, membunuh warga sipil bisa menjadi bumerang.
“Apa pun yang dilakukan (AS), harus sangat tepat tanpa korban jiwa di luar IRGC,” kata analis yang berbasis di Hawaii, Carl Schuster, mantan kapten Angkatan Laut AS.
"Serangan apa pun yang melukai warga sipil bahkan jika tidak disengaja berisiko mengasingkan para pembangkang yang hanya bersatu dalam kebencian mereka terhadap rezim. Kerugian membuat kita menjadi kekuatan asing yang mencoba menekan, mendominasi Iran, bukan pengaruh yang membebaskan,” kata Schuster, yang dikutip CNN, Kamis (15/1/2026).
Apa yang Bisa Jadi Target AS?
Peter Layton, seorang peneliti di Griffith Asia Institute di Australia, menggemakan peringatan mengenai kemungkinan korban sipil, tetapi mengatakan ada beragam target yang tersedia bagi Washington.
Pertama, kata Layton, kepemimpinan tertinggi Iran mungkin rentan, kemungkinan besar secara tidak langsung karena Iran telah belajar dari serangan Israel yang menargetkan dan membunuh anggota senior militer Iran dan ilmuwan nuklir tahun lalu.
Schuster setuju dengan argumen Layton.















































