loading...
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Foto/X @khamenei_ir
TEHERAN - Protes yang dimulai karena inflasi tinggi kini berubah menjadi seruan untuk mengakhiri rezim pemerintah Iran di bawah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Pihak Khamenei menganggap paa pengunjuk rasa sebagai "kelompok perusak" dan "pembuat onar" yang hanya mencoba untuk menyenangkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
"Agar semua orang tahu, Republik Islam berkuasa melalui darah ratusan ribu orang terhormat, dan tidak akan mundur karena orang-orang yang menyangkal ini," kata ulama dan pemimpin berusia 86 tahun itu dalam pidato televisi pada hari Jumat, 9 Januari 2026.
Kemudian, dalam pidato lain yang dia sampaikan kepada para pendukungnya dan disiarkan di televisi pemerintah, Khamenei kembali menegaskan pendiriannya, mengatakan: "Iran tidak akan ragu untuk berurusan dengan unsur-unsur perusak."
Baca Juga: Serangan AS ke Iran Segera Terjadi, Kapal Induk Amerika Menuju Timur Tengah
Siapa Sebenarnya Ayatollah Khamenei?
Ayatollah Ali Khamenei adalah pemimpin tertinggi kedua yang dimiliki Iran sejak Revolusi Islam 1979. Dia telah menduduki posisi puncak sejak 1989. Banyak anak muda Iran yang tidak pernah tahu bagaimana kehidupan tanpa dirinya berkuasa.
Dia duduk di tengah jaringan kompleks berbagai pusat kekuasaan, di mana dia dapat memblokir masalah kebijakan publik apa pun dan tetap memilih kandidat yang akan memperebutkan jabatan publik.
Sebagai kepala negara dan panglima tertinggi militer, termasuk Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), posisinya itu membuat Khamenei sangat berkuasa.
Dia lahir di Mashhad, kota terbesar kedua di Iran, pada tahun 1939.
Dia adalah anak kedua dari delapan bersaudara dalam satu keluarga religius. Ayahnya adalah ulama tingkat menengah dari cabang Syiah Islam, yang merupakan sekte utama di Iran.
Pendidikannya terutama berfokus pada mempelajari Al-Qur'an, dan dia memenuhi syarat sebagai ulama ketika dia baru berusia 11 tahun.
Namun, seperti banyak pemimpin agama pada masa itu, pekerjaannya bukan hanya spiritual, tetapi juga politis.
Seperti yang dikatakan banyak orang Iran, Khamenei bergabung dengan orang-orang yang mengkritik Shah Iran, raja yang kemudian digulingkan selama Revolusi Islam 1979.
Mengutip dari BBC, Kamis (15/1/2026), selama bertahun-tahun, Khamenei hidup bersembunyi atau mendekam di penjara. Polisi rahasia Shah menangkapnya enam kali, dan dia menderita penyiksaan dan pengasingan internal.















































