loading...
2 Guru Besar Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (Unika Atma Jaya/UAJ) berbicara tentang makna Hari Kartini. Foto/UAJ.
JAKARTA - Peringatan Hari Kartini yang jatuh setiap 21 April kerap identik dengan kebaya dan berbagai selebrasi simbolik. Namun, di balik itu, semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini tentang pendidikan, kesetaraan, dan keberanian berpikir kritis masih menjadi refleksi penting hingga hari ini.
Semangat tersebut tercermin dalam perjalanan dua Guru Besar Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (Unika Atma Jaya/UAJ), yakni Guru Besar Bidang Ilmu Linguistik Fakultas Pendidikan dan Bahasa, Prof. Christine Manara serta Guru Besar Bidang Ilmu Bisnis dan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Prof. Dr. Yasintha Soelasih.
Baca juga: Peringati Hari Kartini, Perindo Dorong Perempuan Jadi Motor Ekonomi Kerakyatan Inklusif
Keduanya membagikan pengalaman serta nilai hidup yang mereka pegang hingga mencapai posisi akademik tertinggi.
Prof. Christine memaknai Kartini sebagai figur intelektual yang menjadikan pendidikan sebagai jalan pembebasan. Di tengah keterbatasan patriarki dan masa pingitan, Kartini tetap berkembang melalui membaca dan berpikir kritis. “Ia sudah berbicara tentang kesetaraan, pendidikan, bahkan politik sejak usia muda. She is a deep thinker and a genius,” ujarnya, melalui siaran pers, Selasa (21/4/2026).


















































