Takut Tak Bisa Diselamatkan dari Iran, AS Bawa Kabur Benda Ini ke Luar Angkasa

2 hours ago 6

loading...

AS Bawa Kabur Benda Ini ke Luar Angkasa. Foto/ SCIENCE ALERT

TEHERAN - Karena konflik di Timur Tengah, benda ini dipercepat pengirimannya ke luar angkasa.

Ketidakstabilan di Timur Tengah telah mendorong Google, Amazon, dan sejumlah perusahaan teknologi Tiongkok untuk mempercepat rencana membangun infrastruktur data di wilayah yang tak terduga.

Pada awal Maret, serangkaian serangan drone Iran menargetkan tiga pusat data AWS (Amazon Web Services) di Uni Emirat Arab.

Gangguan terhadap layanan cloud yang terjadi menyebabkan sekitar 300.000 pedagang tidak dapat memproses pesanan. Layanan perbankan, transportasi daring, dan perdagangan elektronik lintas batas semuanya terdampak.

Ini menandai pertama kalinya dalam sejarah seranganmilitersecara langsung menargetkan penyedia komputasi awan skala besar. Peristiwa ini memberikan pukulan berat bagi ambisi negara-negara Timur Tengah untuk mengubah wilayah gurun menjadi pusat AI global.

Pada saat yang sama, hal ini semakin memperkuat tekad perusahaan teknologi besar untuk menemukan lokasi bagi infrastruktur komputasi mereka yang berada di luar jangkauan serangan berbasis darat.

Pada November 2025, Google mengumumkan peluncuran proyek SolarCatch. Rencana raksasa teknologi Amerika ini adalah membangun jaringan satelit yang dilengkapi dengan chip TPU khusus, mengatasi keterbatasan daya dan pendinginan pusat data berbasis darat.

Google akan bermitra dengan perusahaan data satelit Planet untuk meluncurkan dua satelit prototipe pada tahun 2027.

Hanya sebulan kemudian,WSJmelaporkan bahwa Blue Origin milik miliarder Jeff Bezos diam-diam telah mengembangkan pusat data di luar angkasa.

Pendiri Amazon tersebut memprediksi bahwa dalam 10-20 tahun ke depan, umat manusia akan membangun pusat data besar-besaran di luar angkasa.

Read Entire Article
Prestasi | | | |