Uswatun Hasanah: Kepemimpinan Pendidikan yang memberi Makna

3 hours ago 8

loading...

Muhammad Irfanudin Kurniawan Dosen Manajemen Pendidikan Islam Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Foto/UDN Jakarta.

Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Manajemen Pendidikan Islam Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta

Pendidikan Islam tidak kekurangan teori kepemimpinan. Perpustakaan kita penuh dengan kitab-kitab tentang sifat pemimpin, syarat-syaratnya, dan teknik mengelola lembaga. Yang ia kekurangan—dan inilah krisis utama saat ini adalah pemimpin yang hadir sebagai teori itu sendiri.

Pemimpin yang tubuhnya adalah kurikulum, ucapannya adalah silabus, dan tindakannya adalah mata pelajaran.

Di sinilah Al-Qur’an menawarkan satu konsep yang jauh lebih radikal dari sekadar "role model" yaitu uswatun hasanah.

Dari Role Model ke Living Curriculum

Allah SWT berfirman: "Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu uswatun hasanah bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah" (QS al-Ahzab: 21).

Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan, kata uswah berarti "keadaan seseorang yang diikuti oleh orang lain", keadaan yang meliputi seluruh totalitas diri, bukan sekadar atribut.

Sementara hasanah berarti "baik" secara komprehensif, meliputi lahir dan batin. Artinya, keteladanan dalam Islam bukan tentang performa sesaat di panggung, melainkan tentang keutuhan eksistensi.

Teori social learning Albert Bandura (1977) mengajarkan bahwa manusia belajar melalui observasi terhadap model. Namun ia berhenti di ranah perilaku (behavioral modeling). Konsep uswatun hasanah melampaui itu, ia menuntut keselarasan antara qalb (hati), ‘aql (akal), dan ‘amal (tindakan). Dalam bahasa tasawuf pendidikan, ini disebut tazkiyah, pembersihan jiwa yang menjadi prasyarat sebelum seseorang mengajar dan memimpin.

Read Entire Article
Prestasi | | | |