AS Serang Iran, Kini Panik Hadapi Skenario Harga Minyak USD200 per Barel

8 hours ago 6

loading...

AS tidak dapat mengklaim kemenangan dalam perang melawan Iran sebelum Selat Hormuz dibuka kembali. FOTO/Daily Beast

JAKARTA - Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyiapkan berbagai skenario darurat menyusul eskalasi konflik dengan Iran yang memicu gejolak pasar energi global. Salah satu skenario terburuk yang dipertimbangkan adalah lonjakan harga minyak hingga USD200 per barel.

"Dengan ketegangan masih tinggi, itu bukan hal yang mustahil," kata Kepala Ekonom Moody's Analytics, Mark Zandi, dalam pernyataannya dikutip dari The Daily Beast, Kamis (2/4/2026).

Baca Juga: Purbaya Blak-blakan, Setiap Kenaikan 1 Dolar Harga Minyak Tambah Defisit Rp6 Triliun

Sejumlah pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump dilaporkan tengah menyusun rencana kontingensi untuk menghadapi dampak krisis energi yang berpotensi meluas. Langkah ini dilakukan seiring meningkatnya risiko gangguan pasokan minyak global akibat konflik yang berkepanjangan.

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran, sebagai respons atas serangan militer AS dan Israel, telah memperburuk situasi. Jalur strategis tersebut selama ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga gangguan distribusi langsung mendorong harga minyak naik hingga kisaran USD100 per barel.

Kenaikan harga energi tersebut mulai berdampak pada perekonomian, termasuk lonjakan harga bahan bakar di AS. Sejumlah ekonom memperingatkan, tekanan ini berpotensi mendorong ekonomi AS ke jurang resesi jika konflik tidak segera mereda.

Read Entire Article
Prestasi | | | |