Banjir Jakarta Belum Berlalu

3 hours ago 6

loading...

Ramdansyah, Sekretaris PMI Kota Jakarta Utara. Foto/Istimewa

Ramdansyah
Sekretaris PMI Kota Jakarta Utara

HARI-HARI hujan belum berlalu di Jakarta. Iklim Monsun membawa curah hujan yang intensif di musim hujan (Oktober hingga April). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) DKI Jakarta berupaya mengurangi intensitas hujan dengan melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) mulai 16-22 Januari 2026. Tujuannya adalah mengurangi risiko banjir akibat hujan lebat yang kerap mengguyur Jakarta.

Indonesia memiliki garis pantai sepanjang 81.000 km dan 17.500 pulau. Panjangnya garis pantai dan banyaknya pulau ini menimbulkan risiko banjir. Dalam laporan bencana global menyebutkan banjir menyumbang lebih dari 75% bencana alam pada tahun 2023. Banjir merupakan bahaya signifikan bagi banyak pusat metropolitan dan desa pesisir di negara ini. Terlebih kota-kota yang berada di sepanjang pantai utara Pulau Jawa, termasuk Jakarta.

Jakarta menjadi satu kota pesisir yang rentan terhadap perubahan iklim di Asia Tenggara. Kota ini rentan terhadap banjir, naiknya air laut, dan bencana alam lainnya. Keberadaan Jakarta dengan muara 13 sungai menjadikannya rentan terhadap banjir. Kota ini pernah mengalami banjir besar seperti tahun 2002, 2007, dan 2013. Banjir di Jakarta diperparah dengan penurunan permukaan tanah setiap tahunnya. Penurunan tanah berlangsung juga di sejumlah kota di Asia seperti di Tokyo, Manila, dan Ho Chi Minh City.

Risiko yang ditimbulkan oleh perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut berpotensi terus meningkat hingga beberapa abad berikutnya. Perubahan iklim berpotensi meningkatkan risiko banjir di kota-kota dalam tiga cara. Pertama, dari laut, yaitu, permukaan laut yang lebih tinggi dan gelombang badai. Kedua, dari curah hujan, terutama curah hujan yang lebih deras dan lebih lama dibandingkan masa lalu. Ketiga, perubahan yang terjadi karena peningkatkan aliran sungai yang ada dikarenakan faktor pemukiman yang tinggal di dekat dengan sungai.

Diperkirakan risiko banjir di Jakarta akan semakin meningkat di masa mendatang, mengingat ketiga faktor terus berkelindan. Kesiapsiagaan bencana sangat penting untuk menjaga ketahanan warga Jakarta terhadap banjir. Karena tantangan geografis dan infrastruktur Jakarta yang unik, maka strategi mitigasi bencana membutuhkan pendekatan yang efisien yang mempertimbangkan kerentanan kota terhadap banjir, penurunan permukaan tanah, dan kepadatan penduduk. Strategi meminimalkan risiko bencana banjir dari perspektif Antropogenik menjadi bahan kajian tulisan ini.

Read Entire Article
Prestasi | | | |