loading...
Arab Saudi mengalami penurunan pendapatan harian minyak akibat anjloknya volume produksi imbas gangguan di Selat Hormuz. FOTO/CNBC
JAKARTA - Lonjakan harga minyak global di tengah konflik Iran ternyata tidak sepenuhnya menguntungkan negara produsen Teluk. Arab Saudi justru mengalami penurunan pendapatan harian minyak akibat anjloknya volume produksi imbas gangguan di Selat Hormuz.
"Pendapatan harian minyak Arab Saudi turun sekitar USD93 juta atau setara Rp1,6 triliun dibandingkan sebelum perang, meskipun harga minyak melonjak," demikian hasil analisis House of Saud.
Baca Juga: Dua Tanker Raksasa Iran Berhasil Tembus Blokade AS, Boyong 4 Juta Barel Minyak
Dikutip dari CNBC, kenaikan harga minyak mentah jenis Brent yang sempat menembus di atas USD100 per barel dipicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk aksi penyitaan kapal dan batalnya perundingan damai oleh Iran. Namun, lonjakan harga tersebut tidak mampu menutup dampak penurunan produksi minyak Arab Saudi yang turun sekitar 30%, dari 10,4 juta barel per hari menjadi sekitar 7,25 juta barel per hari.
Penurunan produksi tersebut terutama dipengaruhi oleh gangguan distribusi akibat ketegangan di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global. Kondisi ini menciptakan paradoks fiskal, di mana harga tinggi tidak serta-merta berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan.
Untuk kembali ke tingkat pendapatan sebelum konflik, Arab Saudi diperkirakan membutuhkan harga minyak Brent di kisaran USD115 per barel. Namun, level tersebut dinilai sulit bertahan dalam jangka panjang di tengah ketidakpastian pasar global.


















































