loading...
Langkah ekspansif ini diambil demi mengejar target lonjakan produksi hingga 10 kali lipat guna memenuhi lonjakan permintaan bahan baku baterai kendaraan listrik (electric vehicle). Foto/Dok
JAKARTA - Perusahaan mineral kritis terkemuka asal India, Lohum secara resmi mengincar akuisisi tambang nikel di Indonesia dan Filipina. Langkah ekspansif ini diambil demi mengejar target lonjakan produksi hingga 10 kali lipat guna memenuhi lonjakan permintaan bahan baku baterai kendaraan listrik (electric vehicle).
Langkah agresif ini menjadi bagian dari strategi besar India untuk menopang pertumbuhan ekonominya melalui transisi energi hijau, sekaligus melepaskan diri dari ketergantungan pasokan rantai pasok global yang didominasi China .
Founder sekaligus CEO Lohum, Rajat Verma mengungkapkan bahwa pihaknya membidik peningkatan kapasitas produksi nikel hingga 10.000 metrik ton per tahun dalam 18 bulan ke depan. Saat ini, Lohum baru memproduksi sekitar 1.000 ton nikel per tahun melalui fasilitas daur ulang di Gujarat, India Barat.
Baca Juga: Indonesia Punya 40% Cadangan Nikel Dunia, Anehnya Tak Bisa Pimpin Rantai Pasok Baterai Global
Untuk mendanai rencana ekspansi global tersebut, Lohum tengah bernegosiasi dengan sejumlah investor potensial untuk menggalang dana sebesar 10 miliar rupee (sekitar USD105 juta) dari ekuitas. Menambah utang juga menjadi opsi, dengan besaran 20 miliar rupee dalam kurun waktu 12 hingga 18 bulan mendatang.


















































