loading...
Fenomena ALam. FOTO/ SCIENCE ALERT
LONDON - Planet kita telah mengalami perubahan iklim yang dramatis sepanjang sejarahnya, berosilasi antara periode "zaman es" yang membeku dan keadaan "rumah kaca" yang hangat.
Para ilmuwan telah lama mengaitkan perubahan iklim ini dengan fluktuasi karbon dioksida di atmosfer. Namun, penelitian baru mengungkapkan bahwa sumber karbon ini – dan kekuatan pendorong di baliknya – jauh lebih kompleks daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Faktanya, cara lempeng tektonik bergerak di permukaan Bumi memainkan peran penting yang sebelumnya kurang dihargai dalam iklim. Karbon tidak hanya muncul di tempat lempeng tektonik bertemu. Tempat-tempat di mana lempeng tektonik saling menjauh juga signifikan.
Studi baru kami, yang diterbitkan hari ini di jurnalCommunications, Earth and Environment,menjelaskan secara tepat bagaimana lempeng tektonik Bumi telah membantu membentuk iklim global selama 540 juta tahun terakhir.
Di batas tempat lempeng tektonik Bumi bertemu, kita mendapatkan rangkaian gunung berapi yang dikenal sebagaibusur vulkanik.
Peleburan yang terkait dengan gunung berapi ini melepaskan karbon yang telah terperangkap di dalam batuan selama ribuan tahun, membawanya ke permukaan Bumi.
Secara historis, busur vulkanik ini dianggap sebagai penyebab utama pelepasan karbon dioksida ke atmosfer.
Temuan kami menantang pandangan tersebut. Sebaliknya, kami menyarankan bahwa punggung tengah samudra dan retakan benua – lokasi di mana lempeng tektonik terpisah – telah memainkan peran yang jauh lebih signifikan dalam mendorong siklus karbon Bumi sepanjang waktu geologis.
Hal ini karena lautan dunia menyerap sejumlah besar karbon dioksida dari atmosfer. Sebagian besar karbon dioksida tersebut tersimpan di dalam batuan kaya karbon di dasar laut. Selama ribuan tahun, proses ini dapat menghasilkan sedimen kaya karbon setebal ratusan meter di dasar laut.















































